Friday, May 22, 2026

Tugas Ortu Siswa di Jepang

 


Apa saja sih tugas orang tua siswa di Jepang? Awalnya sempet kaget, karena banyak hal di luar dugaan πŸ˜† Tapi lama-lama jadi paham mengapa Jepang bisa seteratur itu. 

1. Mendaftarkan anak ke sekolah sesuai lokasi surat panggilan dr Pemkot. Kami mencoba minta pindah lokasi sekolah, tapi nggak diizinkan. Harus sesuai zonasi, tidak ada jalur lain kecuali swasta. 

2. Membeli perlengkapan sekolah dengan segala perintilannya dan memberi nama setiap benda yang dibawa ke sekolah. Meskipun hanya sebatang lidi atau sebuah dadu. Harus diberi nama. Kalau baju seragam, namanya harus dijahit besar-besar di bagian dada dan celana. Sepatu juga dinamai. Payung pun dinamai, satu payung ditinggal di sekolah dan satu di rumah. Inilah the real sedia payung sebelum hujan ☔

3. Menyediakan lap pel 3 lembar per tahun untuk mengepel sekolah tiap hari, lap tangan handuk untuk digantung di meja masing-masing, dan sapu tangan yang diletakkan di kantong celana. Tidak disediakan tisu di sekolah.

4. Membaca surat edaran dari sekolah dan news letter dari sekolah dengan teliti. Orang tua tidak punya group khusus dengan guru, tidak punya no telp pribadi guru. Kalau ada keperluan penting harus menelepon ke telepon kabel sekolah. Pernah sekali Nabiel tidak ikut acara pementasan di hari Sabtu karena kami tidak teliti membaca surat dari sekolah. Padahal anaknya sudah latihan dari lama πŸ˜…

5. Menghadiri acara class visit untuk melihat anak-anak sedang belajar di kelas dan mengjadiri acara PTA (Parent teachers Association). Setiap acara di sekolah ini tidak pernah ada suguhan, bahkan air putih sekalipun πŸ˜„. Tiap orang sudah bawa tumbler masing-masing biasanya. Setelah selesai acara, semua orang mengangkat kursinya masing-masing dari aula dikembalikan ke gudang. Semuanya self service πŸ˜„

6. Melaksanakan piket patroli jalanan. Memantau keselamatan dan membantu anak-anak menyeberang jalan di rute yang dilalui anak-anak berjalan kaki dari rumah ke sekolah. πŸ‘·‍♀️

7. Setiap malam, ortu bertugas menyimak anak-anak membaca buku yang ditugaskan dan menyimak hafalan perkalian dan pembagian. Kemudian menuliskan berapa menit waktu yang dibutuhkan anak untuk bisa membaca tugas tersebut. Jika masih ada anak yang belum memenuhi standar waktu membacanya, maka kelas itu belum akan maju ke halaman selanjutnya. πŸ‘¨‍🏫

8. Saat liburan musim panas, semua orang tua berkewajiban ikut serta mebersihkan halaman sekolah. Literally mencabuti rumput di lapangan sekolah bersama anak masing-masing. Yang tidak bisa hadir, boleh menggantinya di hari lain. πŸ˜† Bahkan ketika TK orang tua membantu membersihkan sekolah secara keseluruhan, termasuk gosok-gosok keran dan kamar mandi 🀭

9. Saat kegiatan undokai (festival olah raga) yang biasanya menjadi sarana family gathering, orangtua bertugas hadir menyemangati anak, ikut bermain, dan membawa makanan dan minuman sendiri. Kalau khawatir panas, boleh bawa tenda sendiri juga. Rata-rata yang keluarganya banyak pada bawa tenda. πŸŽͺ Kalau kami sih bawa payung sama tiker aja cukup πŸ˜…

10. Orang tua juga akan diminta mengajar di kelas anak. Berhubung saya bahasa Jepangnya alakadarnya, jadi kebagian mengajar cooking. Bikin pisang goreng masakan khas Indonesia πŸ˜†

11. Memeriksa menu bulanan. Setiap bulan akan dibagikan menu makan siang setiap hari untuk mengetahui jika ada menu yang membuat alergi atau menu yang tidak halal harus diganti dengan makanan sendiri. 

12. Ikut menghadiri pelatihan evakuasi bencana bersama anak-anak di sekolah secara berkala. Pelatihannya tidak hanya di sekolah, tapi mencoba berjalan sekitar 2-3 km dari sekolah ke titik evakuasi jika terjadi gempa dan tsunami. 

13. Mengajarkan agama dan baca Quran ke anak secara mandiri, karena di sekolah tidak ada pelajaran agama. Orang tua harus siap mengantar jemput anak laki-laki dari sekolah untuk Jumatan, karena tidak ada masjid di sekitar sekolah. 

Bagaimana? Siap jadi ortu di Jepang? 😁

Saturday, May 2, 2026

Teman Kencan Setia


 Setelah dipikir-pikir lagi, ternyata dia adalah teman kencan setiaku. Saat itu usianya masih 3 tahunan, kami tinggal di Chieti sebuah kota tua di Italia. Tiba-tiba dia mogok berangkat ke playgroup, entah karena bahasa yang tidak dimengertinya, atau warna rambutnya yang terlalu berbeda dari teman-temannya. Akhirnya kami putuskan untuk berhenti mengantarnya ke playgroup. 

Sejak itu kami berkencan setiap hari. Aku memgajaknya berjalan kaki keluar rumah, sekadar  untuk menikmati bangunan-bangunan tua di pusat kota, melihat kura-kura berjemur di kolam air mancur, bermain di play ground, atau mampir ke perpustakaan. Setiap kali kencan biasanya kami akan membeli masing-masing sepotong pizza. Ya, hanya sepotong bukan satu loyang. Dia selalu memesan pizza bianca, pizza tanpa topping yang hanya disiram minyak zaitun dan taburan garam. Jika sedang niat, kami membawa makanan dari rumah dan menikmatinya di bangku taman. 

Di lain waktu kami sengaja naik bus tanpa tujuan, dari terminal sampai kembali lagi ke terminal, hanya untuk menikmati pemandangan pedesaan dan munculnya bunga-bunga pertama di musim semi. Kadang kami mampir di IKEA hanya untuk membeli satu cone gelato. Sejak saat itu dia adalah teman kencan yang paling setia sampai akhirnya saat ini dia mulai sibuk dan kedepannya akan punya kehidupannya sendiri. 

Orang tua membesarkan anak dan menyiapkan mereka untuk bisa hidup tmandiri anpa kita, tapi orang tua sering lupa untuk menyiapkan hati hidup tanpa mereka. 

Friday, March 13, 2026

Seberapa Seru Lebaranmu?

                        pict: Selwerd Mosque


Hari raya umumnya selalu penuh warna, ramai, macet, bertabur makanan, dan penuh hiruk pikuk. Belum lagi banyak pertanyaan saudara dan tetangga yang konon katanya sulit dijawab. Akan tetapi, lebaranku lain lagi ceritanya. Beragam kisah seru hari raya yang kami lalui di fase awal berumah tangga. 

1. Lebaran harus berangkat pagi-pagi buat war shaf di dalam masjid yang sangat kecil, karena kalau di luar bisa beku kedinginan πŸ₯Ά

2. Pernah hidangan lebaran hanya indomie, karena menurut kami itu adalah menu yang istimewa, dirindukan, dan susah ditemukan πŸ˜‚ Lebih menarik dari ketupat dan opor ayam yang membuatnya jauh lebih rumit

3. Pernah tidak ada sholat Eid di kota kami, jadi harus travelling ke luar kota dulu kalau mau ikut sholat eid. Habis sholat eid malah harus cari resto yang jual makanan halal. 

4. Pernah sehabis sholat eid suami masih harus berangkat kerja lagi dan anak ke sekolah lagi, karena lebarannya bukan di hari libur nasional

5. Pernah lebaran bingung mau apa karena tidak ada keluarga yang akan dikunjungi dan tidak ada pula yang akan mengunjungi. Akhirnya hanya melihat foto-foto kumpul keluarga orang lain melalui media sosial πŸ˜…

6. Pernah juga lebaran tanpa bersama orang tua dan keluarga besar. Sepiii... Tidak ada menu istimewa, tidak menyiapkan kue kering, tidak menyiapkan angpaw juga

7. Kalau malam takbiran harus nyetel dari HP sendiri biar berasa vibes lebarannya, karena tidak ada suara takbiran sama sekali

8. Sering tidak membeli baju baru dan memakai baju yang ada saja. Karena di kota kami tidak ada yang menjual baju koko, baju batik, dan baju muslimah lainnya 😁 

Namun, apapun keadaannya, tetap saja ada rasa haru dan bahagia yang bercampur. Haru karena berpisah dengan Ramadhan bahagia karena menyambut hari raya. Bagaimanapun kondisi lebaranmu saat ini, selalu ada hal yang patut disyukuri. 


Sunday, February 8, 2026

Orang-Orang yang Pernah Singgah

 


Dalam hidup, orang-orang akan datang dan pergi. Ada yang datang untuk menetap, ada pula yang hanya singgah untuk memberi pelajaran. 

Pernah nggak bertemu orang yang hanya singgah sebentar, tetapi tak terlupakan? Tiba-tiba saya teringat pada orang-orang yang singgah itu, dan uniknya ternyata mereka semua adalah nenek-nenek 😁. 

Nenek 1. 

Namanya saya tidak pernah tahu, seorang warga Turki yang tinggal di Groningen, Belanda. Qadarullah, di malam-malam tarawih selama Ramadhan di masjid Selwerd Groningen, beliau selalu shalat di sebelah saya. Kami hanya bertukar senyum, dan bersentuhan bahu. Pernahmencoba komunikasi tapi gagal, karena beliau hanya bisa bahasa Turki dan saya hanya mengerti Bahasa Inggris. Di malam terakhir beliau mengundang saya datang ke rumahnya setelah Iedul Fitri dengan menuliskan alamatnya di secarik kertas. Entah bagaimana saya pun datang meskipun tak kenal sama sekali. Mungkin saking tak adanya kerabat yg bisa dikunjungi di negeri orang. Ternyata di sana beliau menjamu kami dengan berbagai makanan khas Turki yang luar biasa manisnya. Sampai saat ini saya tidak ingat wajah dan namanya, tetapi pertemuan singkat itu telah meninggalkan kenangan yang manjs pula. 

Nenek 2.

Namanya Berarderli. Seorang Italia usia 83 tahun. Tinggal sendirian di apartemennya yang bersebelahan pintunya dengan apartemen saya. Setiap hari masih aktif belanja ke pasar jalan kaki, pulang menenteng sekantong besar buah-buahan dan sayur. Sering kali setiap Nabiel pulang dari Play groupnya, beliau memberi hadiah permen cokelat. Bahkan suatu kali beliau juga pernah mengundang kami untuk datang makan siang ke rumahnya dan membuatkan menu gnocchi yang begitu lezat. Keberadaan beliau seakan-akan selalu hadir menyambut kepulangan kami, meskipun kami tinggal di kota tanpa orang yang dikenal sama sekali. 

Nenek 3.

Namanya saya tidak tahu. Seorang warga Uzbekistan. Kami duduk bersebelahan di Masjid Al Haram. Beliau melihat Quran yang saya pegang dengan takjub. "Ini Quran? Tanyanya?" 

"Iya, " jawab saya. 

"Bacaan Quranmu bagus," katanya. 

Sejujurnya saya bingung, apa yang membuat bacaan saya bagus di tengah-tengah masjid Al Haram ini? Lalu beliau bercerita, di negaranya tak banyak yang bisa membaca Al Quran. Beliau menunjukkan buku di tangannya. Ini adalah Quran yang bisa kubaca. Sebuah buku dengan tulisan Uzbekistan yang tidak saya pahami. Sepertinya itu adalah Al Quran yransliterasi ke bahasa Uzbekistan. MasyaAllah, jarak Indonesia dan Mekkah itu lebih jauh daripada Uzbekistan dan Mekkah. Tetapi betapa beruntungnua saya lahir di Indonesia yang sangat mudah aksesnya untuk belajar Quran. Sebelum berpisah beliau memberi hadiah segwnggam kacang Almond dan kacang kenari yang masih tersimpan dalam kulitnya. Pertemuan sederhana tetapi terasa istimewa. 

Nenek 4.

Namanya saya tidak tahu. Dari pakaiannya saya pikir beliau adalah orang Turki. Saat akan sholat subuh di masjid Al. haram, seperti biasa shaf-shafnya sudah penuh. Lalu tiba-tiba nenek ini memanggil saya dan mempersilakan duduk di sebelahnya. Saya tersenyum dan bertera kasih. Tidak ada lagi percakapan setelau itu. Usai sholat, saya akan melanjutkan thawaf wada' yang terpotong. Beliau menggamit lengan saya, mengeluarkan sehelai kerudung dari tas kecilnya. Hadiah... hadiah ... katanya. Saya pun menerima hadiah itu dengan senang hati, lalu menyimpan kerudung itu di tas dan lupa untukengeluarkannya sampai kami berpindah ke Madinah. Qadarullah diasjid Nabawi Ibu saya terjatuh dan tangan beliau patah. Saat saya panik membongkar tas mencari pertolongan pertama, muncullah kerudung pemberian sang nenek itu. Saya langsung memakai kerudung itu untuk mengikat lengan Ibu saya agar posisinya tidak bergerak menjelang ke rumah sakit. MasyaAllah, saat itu saya bersyukur dan kembali inginengucapkan terima kasihbpada sang Nenek yang entah di mana lagi kami bisa bertemu. 

Begitulah benerapa kisah orang-orang yang pernah singgah. Entah siapa lagi yang akan kita temui selanjutnya, yang pasti semuanya pasti telah direncanakan oleh Allah. 

Thursday, November 13, 2025

Le Grotte di Stiffe Air dari Kegelapan Menuju Cahaya.

Abruzzo adalah salah satu region di Italia yang mendapat julukan sebagai wilayah terhijau di Eropa. Di wilayah ini terdapat 3 taman nasional yang dihiasi oleh rangkaian pegunungan Apennina dengan Gran Sasso sebagai puncak tertingginya. Berbeda dengan tempat-tempat wisata terkenal lainnya di Italia, Abruzzo termasuk daerah yang jarang dikunjungi oleh wisatawan mancanegara. Di sinilah kita bisa menikmati indahnya bentang alam yang hijau dan mengamati budaya asli Italia lebih dekat.

Kami memilih cara untuk menikmati keindahan alam Abruzzo dari atas kereta wisata Transiberia dItaliana. Kereta ini hanya beroperasi sekali dalam sebulan dengan tujuan tempat-tempat wisata eksotik, melewati jalur kereta yang jarang digunakan, bahkan sebagian sudah tidak dipakai lagi oleh kereta reguler. Setiap bulannya kereta ini menempuh rute dan tujuan yang berbeda-beda.


Transiberiana dItalia (transita)

Kereta Transita


Perjalanan kereta kali ini menuju ke Le Grotte di Stiffe, sebuah gua yang terletak di desa Stiffe, tak jauh dari Laquila ibu kota Abruzzo. Kereta ini berangkat dari kota Lanciano menuju Pescara, Chieti, Sulmona, dan berakhir di Stasiun Fagnano.

Kami berangkat pukul sembilan pagi dari stasium Chieti, kurang lebih 1,5 jam perjalanan menuju stasiun terakhir. Kereta Transita yang kami tumpangi hanya terdiri dari satu gerbong yang berisi sekitar 60 orang. Tempat duduk di dalam kereta ini saling berhadapan, sehingga memungkinkan para wisatawan berinteraksi dan merasa akrab satu sama lainnya. Para petugas kereta menyambut dengan ramah dan menjelaskan tentang pemandangan di sepanjang jalan yang kami lewati.


Perjalanan selama 1,5 jam terasa begitu singkat. Di sepanjang jalan kami dihibur dengan pemandangan yang menakjubkan, bukit tinggi dan pegunungan yang hijau, dengan salju yang memutih di puncaknya, padang rumput yang dihiasi oleh bunga-bunga liar yang ber warna-warni, menambah hangatnya suasana di musim semi. Bukit-bukit cadas yang berdiri kokoh dihiasi oleh barisan kincir angin moderen. Kota-kota tua yang antik terlihat indah di puncak bukit. Sesekali tampak kastil-kastil dan gereja tua dengan menara yang menjulang berwarna terakota. Pemandangan ini membuat kami merasa enggan untuk berkedip dan ingin mengabadikannya dalam gambar.

Di dalam kereta suasananya pun tak kalah ramainya. Penumpang dihibur oleh group musik tradisional Abruzzo I Lupi della Majella. Mereka menyanyikan lagu-lagu khas Abruzzo yang biasanya secara turun temurun dinyanyikan oleh para petani dalam pesta-pesta mereka. Lagu tersebut diiringi dengan acordeon dan beberapa alat musik tradisional lainnya. Beberapa wisatawan yang mengenal lagu tersebut pun ikut bernyanyi menyemarakkan suasana.

Group musik I Lupi della Majella

Selama di kereta, kami juga disuguhi makanan khas Abruzzo yang menggoda selera. Mulai dari Fiadoni, kue panggang berisi beberapa macam keju, roti forno alegna (roti yang dipanggang dengan tungku kayu) yang diberi saus minyak zaitun produk Abruzzo, hingga kacang Fava (Vicia faba), sejenis kacang polong yang bijinya bisa dimakan mentah pada saat masih segar. Pada masa musim semi, di Italia terdapat tradisi memakan kacang Fava yang ditemani dengan keju pecorino (keju dari susu domba) dan minyak zaitun. Ini adalah sebuah pengalaman kuliner yang menarik. 

Roti Forno Alegna


Kacang Fava

Fiadoni


Setelah kurang lebih 1,5 jam, akhirnya kereta sampai di stasiun Fagnano. Sebuah stasiun kecil dan sepi yang terletak di tengah-tengah barisan pebukitan. Tidak ada lagi orang dan aktivitas lain di stasiun tersebut pada saat itu, selain rombongan kami. Sambil menunggu bus yang akan mengantar para wisatawan menuju Le Grotte di Stiffe, lagi-lagi kami dihibur dengan penampilan musik tradisional sambil menikmati keindahan dan kesunyian alam di sekitarnya. Anak-anak tampak asik bermain sambil memetik bunga-bunga rumput liar.


Le Grotte di Stiffe



Setelah menempuh perjalanan mendaki bukit dengan bus selama 20 menit, akhirnya kami tiba di mulut gua Le Grotte di Stiffe. Dari tempat parkir bus ini sudah terlihat beberapa air terjun kecil yang tampak memutih di sela-sela lembah yang hijau. Tempat ini adalah salah satu titik yang tepat untuk mengagumi keindahan alam Abruzzo. Di satu sisi kita dapat menikmati keindaham lembah, padang rumput, dan barisan Gran Sasso dari kejauhan. DI sisi lain mata kita tertumbuk pada tebing terjal setinggi 100 m.

Le Grotte di Stiffe adalah gua yang sudah berusia ratusan ribu tahun. Mulut gua ini terletak di dasar tebing terjal setinggi 100 m yang menghadap ke desa Stiffe. Di dalamnya mengalir sungai dengan arus deras yang sebelumnya terperangkap di bawah tanah. Melalui gua ini air mengalir dari gelapnya bawah tanah menuju cahaya di alam terbuka. Dimasa lalu, tenaga air ini dimanfaatkan oleh pemerintah setempat sebagai pembangkit listrik yang terus dipakai hingga perang dunia ke dua. Pada tahun 1991 gua ini diresmikan menjadi objek wisata.

Saat memasuki gua, kami merasakan perubahan yang nyata. Suara air yang bergemuruh, cahaya remang-remang yang berasal dari lampu kecil yang menggantung di dinding gua, tetesan air dari langit-langit, dan hawa dingin memaksa seluruh indera untuk beradaptasi. Suhu rata-rata didalam gua ini sekitar 10oC sepanjang tahun.

Jalan di dalam Le Grotte di Stiffe dibuat dari besi berlubang-lubang, yang lebarnya sekitar 1 m. Walaupun pengunjung berjalan di atas arus air, namun tidak perlu khawatir kebasahan atau terpeleset di bebatuan berlumut. 

Kami ditemani oleh seorang pemandu wisata yang menjelaskan setiap area yang kami lalui. Gua ini panjangnya sekitar 700 m yang terdiri dari terowongan-terowongan dan beberapa ruangan besar dengan karakteristik yang berbeda-beda. Dinding gua ini secara umum berwarna putih sebagai karakteristik dari batu kapur. Namun pada ketinggian tertentu, terlihat garis-garis gelap oksida logam akibat aktivitas sungai selama ribuan tahun. 

Ruangan besar pertama yang kami lewati disebut Ruang Sunyi, karena ruang besar tersebut terisolasi dan tidak terdengar suara air yang bergemuruh seperti di bagian gua lainnya. Namun, setelah melalui sebuah terowongan, kami disambut oleh deru air terjun yang meluncur dari ketinggian 20 m. Percikan lembut airnya membasahi siapa pun yang melewatinya. Gemuruh suaranya bahkan membuat kami kesulitan mendengar suara pemandu wisata yang menggunakan pengeras suara. Perjalanan dilanjutkan dengan mendaki anak tangga, memanjat tebing sekitar 20 m, untuk tiba di Ruang Konkret. Di ruang ini para wisatawan disuguhi keindahan stalaktit, bagai ukiran batu putih yang menggantung di langit-langit, seakan tengah bersiap menghujam ke bumi. 

Ruang selanjutnya adalah Danau Hitam. Di ruangan ini terdapat sebuah danau kecil yang tenang. Tempat ini adalah bagian tertua dari gua. Dilangit-langit terukir stalaktit yang berkelok-kelok, sedang di dasar gua tampak stalagmit yang telah tumbuh sejak ribuan tahun yang lalu, hingga mencapai ketinggian 3 m. Di beberapa tempat lain tampak pilar-pilar kokoh hasil pertemuan antara keduanya. Ukiran stalaktit dan stalagmit yang indah dan rumit ini adalah mahakarya dari Sang Pencipta. 

Beranjak dari danau hitam kami berjalan menuju ruang air terjun terakhir”. Ruang ini relatif sempit, dan dipenuhi oleh raungan suara air terjun yang menggelegar, jauh lebih dahsyat jika dibandingkan dengan air terjun sebelumnya. Kami tidak bisa mendengar suara apa pun selain suara air. Air terjun ini seakan meledak dari ketinggian 20 m dan disambut oleh danau kecil yang dalam. Percikannya memenuhi seluruh ruangan. Air terjun ini dibuka untuk umum sejak tahun 2007. Di sinilah perjalanan di dalam gua Le Grotte di Stiffe berakhir.


Atraksi Burung Elang



Tiba saatnya memandang ke langit, menghirup kembali udara luar setelah melakukan perjalanan bawah tanah selama satu jam. Para wisatawan diantarkan ke sebuah lapangan camping untuk beristrirahat dan makan siang. Di lapangan ini terdapat restoran, toko suvenir, area bermain anak, area barbeque, penyewaan kuda, dan bangku-bangku tempat beristirahat. Tempat ini semakin terasa nyaman dengan pemandangan indah di sekitarnya dan alunan musik tradisional yang dimainkan Group I Lupi della Majella.

Di tempat ini terdapat pertunjukan atraksi burung elang yang menjadi ikon provinsi lAquila. Kata aquila dalam bahasa latin berarti burung elang. Burung-burung ini dilatih dan dipelihara oleh seorang pawang. Sang pawang elang dengan kostum khususnya menampilkan kepiawaiannya berkomunikasi dengan burung pemangsa tersebut. Ia memperagakan ketajaman mata elang dan betapa presisi gerakan burung tersebut saat menemukan mangsanya. Kepakan anggun sayapnya di udara mengundang tepuk tangan riuh dari para penonton.

Menjelang sore, para wisatawan diantarkan kembali dengan kereta Transita menuju ke kota masing-masing. Pemandangan di sepanjang jalan tampak semakin cantik disinari matahari sore yang mengemas. 


Friday, November 7, 2025

Catatan Perjalanan: Backpacker Keliling Jakarta

 

Foto by Zakarya

Sebetulnya bukan pertama kalinya saya mengajak siswa outing keluar kota. Tapi jujur outing kali ini yang paling bikin deg degan, persiapannya lebih riweuh, membuat rundown kegiatan pun harus sangat sangat detail. 
Kami memutuskan mengajak 31 orang siswa kelas 6 SD backpacker-an keliling Jakarta. Dari Bandung kami naik kereta cepat Whoosh, lanjut di Jakarta berkeliling dengan LRT, MRT, KRL, dan bus Trans Jakarta. Pulangnya naik kereta ekonomi Cikuray. lengkap semua, hanya bajaj dan Jaklingko yang tidak dicoba. 

"Berani banget sih kalian," komentar seorang teman. Ya, tidak salah memang, Tapi lebih tepatnya saya memberanikan diri dengan tak lepas bergantung pada pertolongan Allah. Apalagi dengan kondisi cuaca Jakarta saat ini. Tanpa keyakinan itu, sungguh saya tak punya nyali. 

Kenapa sih harus backpackeran, apa tidak ada destinasi lain yang lebih nyaman? Sebetulnya kami ingin agar anak-anak merasakan pengalaman menaiki berbagai transportasi umum yang sudah terintegrasi di Jakarta. Tak semua anak-anak saat ini berkesempatan dan berkepentingan naik transportasi umum. Siapa tahu salah satu diantara mereka kelak ada yang akan menjadi seorang pengambil kebijakan publik. Alangkah baiknya jika mereka pernah merasakan berdiri berdesakan, bergelantungan, bermandikan keringat di KRL. Hal yang umum dirasakan sebagian masyarakat setiap harinya. 

Capek dan lelah itu sudah pasti, pegal-pegal tidak bisa dihindari. Kesabaran dan ketenangan pun betul-betul diuji. Namun, itu harga yang pantas untuk membayar pengalaman dan pelajaran yang bisa diambil oleh anak-anak. Pelajaran untuk menjadi seorang warga masyarakat, yang tidak bisa didapatkan di kelas. 
Anak-anak belajar antre dengan tertib, menggunakam eskalator dan lift dengan benar, latihan mentaati aturan, dan menjaga fasilitas umum. Mereka juga belajar memberikan hak prioritas kepada ibu hamil, lansia, dan orang yang mempunyai keterbatasan fisik di tempat umum. 

Foto by Zakarya


Saat berada di kendaraan umum, anak-anak juga belajar menahan diri untuk tidak bersuara tetlalu keras agar tidak mengganggu kenyamanan orang lain. Selain itu, mereka juga mengupayakan agar tidak meninggalkan sepotong sampah pun di kendaraan umum.  Awareness terhadap lingkungan sekitar itu harus dilatih sejak dini. Lalu, apakah anak-anak bisa? Alhamdulillah bisa ternyata, meskipun harus beberapa kali perlu diingatkan. 

Satu point penting lainnya adalah anak-anak jadi belajar tentang betapa pentingnya menghargai waktu. Meskipun telat hanya 1 menit, bisa membuat kami tertinggal kereta. Kereta tidak seperti Ibu guru yang masih sering memaklumi jika anak-anak datang terlambat ke sekolah. Saat kami hampir ketinggalan kereta Cikuray menuju Bandung, mereka berlari hingga lupa dengan rasa lelah dan kakinya yang pegal. Sungguh sangat menegangkan. Jika 2-3 orang yang tertinggal kereta masih tidak masalah, celakanya rombongan kami ada 38 orang. Jika tertinggal kereta, maka kami semua tidak bisa pulang ke Bandung dan tiket pun hangus semua. 

Anak-anak juga mulai paham bahwa sebelum turun dari LRT dan MRT mereka harus bersiap-siap dan menjaga barang-barang pribadinya agat tidak ada yang tertinngal. Jika kartu e-money hilang, maka mereka tidak akan bisa keluar dari stasiun. Tidak seperti pensil atau penghapus yang jika hilang pun seringkali tidak ada yang peduli. 

Di setiap perjalanan ada saja kejadian yang di luar dugaan. Seperti kartu e-money yang tiba-tiba tidak berfungsi, sepatu yang terkunci di box penitipan, kartu e-money yang tertinggal di bus, atau anggota kelompok yang tiba-tiba menghilang. Di sini anak-anak juga belajar untuk saling menjaga dengan teman, dan saling mahami keterbatasan teman. Belajar agar dirinya tidak merepotkan orang lain. 

Perjalanan kali ini sungguh ramai, melelahkan, serta full adrenalin, tetapi tentu saja seru dan menyenangkan. Perjalanan ini juga membuat kami para guru pendamping jadi semakin lancar berhitung, karena setiap turun dari kendaraan umum, kami selalu menghitung jumlah anggota kelompok, apakah sudah lengkap atau belum. Ketika salah menghitung dan kurang satu anak saja sudah cukup membuat sport jantung dan lutut terasa lemasπŸ˜…. Alhamdulillah atas perrtolongan dan perlindungan Allah semuanya berjalan lancar pada akhirnyaπŸ˜…. Didukung juga oleh kerja keras dan kerjasama tim guru yang luar biasa. Di saat panik pun semuanya bisa berpikir dengan kepala dingin, alhamdulillah. Kapok nggak? Tentu tidak. Masih mau mengulang lagi? InsyaAllah, kenapa tidak? See you on the next trip insyaa Allah 🀩


Wednesday, December 3, 2014

Luce D’artista Salerno





Salerno, adalah kota pesisir pantai yang terletak di ujung jajaran Amalfi Coast, Italia. Seperti halnya kota-kota lainnya di Amalfi Coast, salerno terkenal akan keindahan pantainya. Pada saat musim panas dan awal musim gugur, wisatawan banyak berdatangan ke kota ini. Tujuannya tentu saja untuk menikmati keindahan plantainya dan cuaca yang hangat.

Namun, pada saat musim dingin tiba, pantai tidak lagi menjadi tujuan para wisatawan. Tak ada yang tertarik pada pantai yang berangin dingin, menusuk hingga ke tulang. Akan tetapi, kota Salerno memiliki daya tawar lain yang dapat menarik wisatawan untuk tetap menikmati musim dingin. Sejak tahun 2006, kota Salerno mempunyai tradisi menghias kotanya dengan lampu-lampu artistik yang sangat indah. Kehadiran lampu-lampu ini menghidupkan malam-malam musim dingin yang panjang. Orang-orang mengenakan mantelnya, berjalan kaki keliling kota, menikmati pemandangan malam tidak hanya sekadar berkurung di dalam rumah. 
 
Lorong kota berhias lampu

Lampu-lampu tersebut dibuat sesuai dengan tema setiap tahunnya. Jalanan dan lorong-lorong kota, pohon-pohon, dan taman, dihiasi dengan lampu yang membentuk bunga, lampion, atau pun hewan-hewan. Pertunjukan utama lampu-lampu ini adalah di taman kota (Villa Communale). Di taman tesebut  terdapat lorong, kereta kuda, Big Ben, dan berbagai macam hewan yang terbuat dari lampu beraneka warna. 






 Di sepanjang pantai didirikan stan-stan untuk menjual produk lokal yang dikenal sebagai pasar natal. Selain itu juga terdapat puppet show dan wahana bermain untuk anak-anak.
 
Puppet show

Salah satu lampu hias yang menarik adalah lampu yang dibuat dari botol plastik bekas minuman. Warna-warni botol bekas tersebut tampak indah dan serasi dari kejauhan. Di atas batu-batu besar pemecah ombak pantai, dipasang lampion-lampion berbentuk penguin. Dari jauh tampak seperti pinguin yang bersinar dalam kegelapan.
 
Lampu dari botol minuman

Lampion penguin di tengah laut


Lampu-lampu hias ini dipasang mulai bulan November hingga Januari. Pengunjung yang ingin menyaksikan keindahannya memadati ruas-ruas jalan di pusat kota. Mulai dari anak-anak hingga kakek nenek tumpah ruah ke jalan untuk menikmati indahnya malam di Kota Salerno. Begitu ramainya, hingga untuk berjalan pun harus perlahan-lahan. Pemerintah kota menyediakan shuttle bus dari tempat parkiran, menuju ke pusat pertunjukan. Hal ini sangat efektif untuk mengurangi jumlah kendaraan di dalam kota dan mengatasi masalah tempat parkir.




Adanya festival lampu ini tampaknya dapat menggairahkan perekonomian masyarakat setempat. Cafe dan restoran dipenuhi oleh pengunjung. Pedagang kaki lima yang menjual kentang goreng, kacang castagne panggang, crepes, seafood goreng, dan sebagainya, berkesampatan untuk mendapatkan tambahan penghasilan. 

Penjual castagne panggang