Saturday, May 30, 2026

TKA: Sebuah Refleksi


 Jauh sebelum nilai TKA keluar, sebetulnya saya sudah lebih dulu merasa bahagia. Tepat sehari setelah Tes TKA, saya bertanya pada anak-anak di kelas, "Apa yang kalian rasakan setelah tes TKA? Apakah kalian sudah merasa berjuang maksimal untuk tes kali ini?" Mereka menjawab "Iya." Anak-anak merasa puas dan lega karena telah belajar dan berjuang kali ini. "Apakah kalaian akan menyesal nanti karena merasa belum berusaha?" Mereka menjawab "Tidak" dengan mantap. Bahkan ada yang mengatakan baru kali ini mereka belajar segiat ini. Jawaban itu sebenarnya sudah lebih dari cukup. 

Sebagai guru yang menemani proses panjang anak-anak dalam belajar untuk tes ini, saya melihat kerja keras dan antusias anak-anak. Memang tidak semua, tapi setidaknya sebagian besar. Mereka mengorbankan waktu mainnya untuk mengikuti pelajaran tambahan 2 kali per pekan. Mereka mengerjakan ratusan soal yang kami diberikan. Anak-anak meminta tambahan soal ketika hari libur menjelang tes untuk dikerjakan di rumah, yang biasanya diberi soal PR pun mungkin mereka akan merasa keberatan. Bahkan anak-anak mengirim WA ke saya di hari liburnya untuk menanyakan materi yang mereka belum paham. Bagi saya hal ini jauh lebih berarti dari capaian nilai di atas kertas yang pada akhirnya mereka dapatkan. Semangat belajar, semangat untuk menaklukkan kesulitan itu tak ternilai harganya. Anak-anak jadi paham bahwa memang tabiat belajar itu adalah berlelah-lelah. Tidak ada yang mudah, tidak ada yang instan. Saat saya merasa sangat lelah ketika harus mengajar tambahan pemantapan, tapi melihat anak-anak yang bersemangat itu, rasa lelah saya pun mengalah dengan sendirinya. Saat mempersiapkan tes ini, kami mereview kembali materi-materi kelas di bawahnya yang sudah terlupakan. Kita juga berusaha semampunya menambal konsep-konsep yang dirasa masih bolong. Tanpa event TKA, bisa jadi hal semacam ini terlewat dilakukan. 

Sekarang, saat hasil TKA sudah keluar, rasanya seperti mendapatkan bonus. Bonus berkesempatan untuk mengukur secara kolektif sampai di mana kemampuam literasi dan numerasi siswa-siswa kami dengan soal yang terstandar. Hal ini menjadi bahan refleksi bersama, baik guru, orang tua, maupun anak sendiri. Hal apa yang sudah cukup baik dan hal apa yang masih perlu ditingkatkan dengan perjuangan lebih keras lagi. Jikapun ada yang mengatakan bahwa mungkin ada yang anak yang mendapat keberuntungan atau ketidakberuntungan, saya pikir itu bisa dianggap sebagai galat. Dalam statistik galat adalah hal yang dimungkinkan. Secara normal, tidak mungkin 100 persen semuanya adalah faktor keberuntungan. Apalagi sampai menafikan kerja keras anak-anak yang sudah berusaha dan belajar secara maksimal. Berapapun nilainya, mereka semua layak untuk diapresiasi. "Guys, ternyata kalian itu keren lho effort-nya, masyaAllah."

Jika akhirnya kita lihat rata-rata nilai literasi dan numerasi siswa secara nasional rendah, bukankah itu hal yang tidak mengejutkan? Selama ini kita sudah tahu score PISA Indonesia yang masih rendah dan dianggap berada di bawah kemampuan dasar minimal yang harusnya dimiliki. Namun, sebagian orang masih denial dengan score PISA tersebut. Masih menganggapnya tidak representatif. Nah, sekarang data TKA dengan jumalah sample yang sangaaat besar ini harusnya sudah sangat cukup dan representatif untuk dianalisis. Dan tampaknya memamg tidak jauh berbeda dengan score PISA yang sudah dilaunching sebelumnya. Jadi ... Apa yang harus kita lakukan selanjutnya? 

Saturday, May 23, 2026

Tentang PR di SD Jepang

         Nabiel dan Yuuki-kun berburu serangga

SD di Jepang itu ada PR nggak sih? Ada tentunya. Ada PR setiap hari dan juga di waktu liburan 😂
Sepertinya sistem pendidikan Jepang memang didesign untuk melahirkan orang-orang yang tekun, telaten, dan pekerja keras. Mungkin cocok dengan negara mereka yang mempunyai banyak industri namun kekurangan tenaga kerja. 

Sejak kelas 1 SD, Nabiel setiap hari membawa pulang minimal 3 PR setiap hari. PR latihan menulis huruf kanji 1 halaman, PR matematika 1 halaman, dan PR membaca 1-2 halaman. Menurut gurunya saat itu, PR ini telah disesuaikan bebannya sesuai level. PR kelas 1 dapat di selesaikan dalam waktu 10 menit, kelas 2 diselesaikan dalam 20 menit, kelas 3 dalam 30 menit dan seterusnya hingga PR kelas 6 dapat diselesaikan dalam 60 menit. 

Tanpa drilling seperti ini mungkin akan sulit bagi mereka menghafalkan cara menulis dan membaca ribuan huruf kanji yang harus dihafalkan. Bisa bisa dibayangkan tanpa hafal huruf sebanyak itu mereka terancam buta huruf, tidak dapat membaca informasi yang ada di TV, koran, ataupun tulisan di jalanan. 

Mulai kelas 2 SD, PR pun bertambah 1 macam lagi. Yaitu PR menghafal perkalian 1-10 setiap malam disimak oleh orang tua. Berkat pengulangan setiap malam ini, sampai sekarang pun saat mengingat perkalian Nabiel otomatis berpindah ke mode Bahasa Jepang. Karena memori itulah yang tertanam sangat kuat. 

Oh ya, setiap akhir pekan, Nabiel juga punya PR menulis. Tugasnya adalah menuliskan pengalaman ataupun perasaannya di akhir pekan itu dalam satu halaman. Di hari senin tulisan itu akan dibaca oleh gurunya, diberi feedback dan komentar secara tertulis. 
Belum selesai sampai disitu. Yang paling mengerikan buat orang tua adalah PR saat liburan panjang musim panas. Setumpuk PR dibawa pulang yang harus dikumpulkan saat libur selesai. Saat libur ini ada PR matematika 1 buku, PR Bahasa Jepang 1 buku, PR menulis diary harian 1 buku, dan PR membuat produk apapun yang akan dipamerkan nanti saat masuk sekolah. Yang menarik selain mencatat kegiatan, anak-anak juga harus mencatat bagaimana kondisi cuaca setiap harinya. Hujan, berawan, cerah, berangin, atau badai. 

Sebetulnya tugas musim panas ini jika dijerjakan setiap hari mungkin tidak akan memakan waktu lebih dari 10 menit. Di sini mungkin mereka belajar tentang konsistensi dan ketekunan. Belajar untuk tidak menunda-nunda pekerjaan dan ditumpuk di akhir karena itu akan sangat menyulitkan. 

Terkait tanggung jawab terhadap tugas ini juga ada satu sistem yang menarik. Kalau ada siswa yang sakit, maka guru akan berkunjung ke rumah siswa. Namun, alih-alih membawakan makanan, guru datang membawa PR dan materi pelajaran yang teringgal. Kadang terasa tidak manusiawi memang. Tapi anak jadi belajar, saat sehari meninggalkan tanggung jawab, itu bukan berarti tanggungjawabmu hilang, tapi akan menambah pekerjaan di hari berikutnya.

Sungguh berat memang, tapi saat dewasa hal itu kenyataan pahit yang harus dihadapi. 
Meskipun begitu, anak-anak tetap masih punya banyak waktu bermain di luar bersama teman-temannya. Mereka masih sempat mencari serangga dan memeliharanya di rumah, bermain layang-layang di musim panas, pergi hiking, bermain di taman dsb. Karena memang hanya 10-60 menit saja waktu tambahan yang dibutuhkan untuk belajar di rumah. 

Saya tidak tahu apakah sistem pendidikan semacam ini ada hubungannya atau tidak, tapi begitu terlihat orang-orang dewasanya begitu all out dan serius dalam melaksanakan tanggung jawabnya dalam bekerja.. Petugas di kantor layanan publiknya pun memberikan pelayanan yang serius dan memuaskan. Betul mereka gajinya besar, tapi diikuti dengan etos kerja yang luar biasa pula. 

Friday, May 22, 2026

Tugas Ortu Siswa di Jepang

 


Apa saja sih tugas orang tua siswa di Jepang? Awalnya sempet kaget, karena banyak hal di luar dugaan 😆 Tapi lama-lama jadi paham mengapa Jepang bisa seteratur itu. 

1. Mendaftarkan anak ke sekolah sesuai lokasi surat panggilan dr Pemkot. Kami mencoba minta pindah lokasi sekolah, tapi nggak diizinkan. Harus sesuai zonasi, tidak ada jalur lain kecuali swasta. 

2. Membeli perlengkapan sekolah dengan segala perintilannya dan memberi nama setiap benda yang dibawa ke sekolah. Meskipun hanya sebatang lidi atau sebuah dadu. Harus diberi nama. Kalau baju seragam, namanya harus dijahit besar-besar di bagian dada dan celana. Sepatu juga dinamai. Payung pun dinamai, satu payung ditinggal di sekolah dan satu di rumah. Inilah the real sedia payung sebelum hujan ☔

3. Menyediakan lap pel 3 lembar per tahun untuk mengepel sekolah tiap hari, lap tangan handuk untuk digantung di meja masing-masing, dan sapu tangan yang diletakkan di kantong celana. Tidak disediakan tisu di sekolah.

4. Membaca surat edaran dari sekolah dan news letter dari sekolah dengan teliti. Orang tua tidak punya group khusus dengan guru, tidak punya no telp pribadi guru. Kalau ada keperluan penting harus menelepon ke telepon kabel sekolah. Pernah sekali Nabiel tidak ikut acara pementasan di hari Sabtu karena kami tidak teliti membaca surat dari sekolah. Padahal anaknya sudah latihan dari lama 😅

5. Menghadiri acara class visit untuk melihat anak-anak sedang belajar di kelas dan mengjadiri acara PTA (Parent teachers Association). Setiap acara di sekolah ini tidak pernah ada suguhan, bahkan air putih sekalipun 😄. Tiap orang sudah bawa tumbler masing-masing biasanya. Setelah selesai acara, semua orang mengangkat kursinya masing-masing dari aula dikembalikan ke gudang. Semuanya self service 😄

6. Melaksanakan piket patroli jalanan. Memantau keselamatan dan membantu anak-anak menyeberang jalan di rute yang dilalui anak-anak berjalan kaki dari rumah ke sekolah. 👷‍♀️

7. Setiap malam, ortu bertugas menyimak anak-anak membaca buku yang ditugaskan dan menyimak hafalan perkalian dan pembagian. Kemudian menuliskan berapa menit waktu yang dibutuhkan anak untuk bisa membaca tugas tersebut. Jika masih ada anak yang belum memenuhi standar waktu membacanya, maka kelas itu belum akan maju ke halaman selanjutnya. 👨‍🏫

8. Saat liburan musim panas, semua orang tua berkewajiban ikut serta mebersihkan halaman sekolah. Literally mencabuti rumput di lapangan sekolah bersama anak masing-masing. Yang tidak bisa hadir, boleh menggantinya di hari lain. 😆 Bahkan ketika TK orang tua membantu membersihkan sekolah secara keseluruhan, termasuk gosok-gosok keran dan kamar mandi 🤭

9. Saat kegiatan undokai (festival olah raga) yang biasanya menjadi sarana family gathering, orangtua bertugas hadir menyemangati anak, ikut bermain, dan membawa makanan dan minuman sendiri. Kalau khawatir panas, boleh bawa tenda sendiri juga. Rata-rata yang keluarganya banyak pada bawa tenda. 🎪 Kalau kami sih bawa payung sama tiker aja cukup 😅

10. Orang tua juga akan diminta mengajar di kelas anak. Berhubung saya bahasa Jepangnya alakadarnya, jadi kebagian mengajar cooking. Bikin pisang goreng masakan khas Indonesia 😆

11. Memeriksa menu bulanan. Setiap bulan akan dibagikan menu makan siang setiap hari untuk mengetahui jika ada menu yang membuat alergi atau menu yang tidak halal harus diganti dengan makanan sendiri. 

12. Ikut menghadiri pelatihan evakuasi bencana bersama anak-anak di sekolah secara berkala. Pelatihannya tidak hanya di sekolah, tapi mencoba berjalan sekitar 2-3 km dari sekolah ke titik evakuasi jika terjadi gempa dan tsunami. 

13. Mengajarkan agama dan baca Quran ke anak secara mandiri, karena di sekolah tidak ada pelajaran agama. Orang tua harus siap mengantar jemput anak laki-laki dari sekolah untuk Jumatan, karena tidak ada masjid di sekitar sekolah. 

Bagaimana? Siap jadi ortu di Jepang? 😁

Saturday, May 2, 2026

Teman Kencan Setia


 Setelah dipikir-pikir lagi, ternyata dia adalah teman kencan setiaku. Saat itu usianya masih 3 tahunan, kami tinggal di Chieti sebuah kota tua di Italia. Tiba-tiba dia mogok berangkat ke playgroup, entah karena bahasa yang tidak dimengertinya, atau warna rambutnya yang terlalu berbeda dari teman-temannya. Akhirnya kami putuskan untuk berhenti mengantarnya ke playgroup. 

Sejak itu kami berkencan setiap hari. Aku memgajaknya berjalan kaki keluar rumah, sekadar  untuk menikmati bangunan-bangunan tua di pusat kota, melihat kura-kura berjemur di kolam air mancur, bermain di play ground, atau mampir ke perpustakaan. Setiap kali kencan biasanya kami akan membeli masing-masing sepotong pizza. Ya, hanya sepotong bukan satu loyang. Dia selalu memesan pizza bianca, pizza tanpa topping yang hanya disiram minyak zaitun dan taburan garam. Jika sedang niat, kami membawa makanan dari rumah dan menikmatinya di bangku taman. 

Di lain waktu kami sengaja naik bus tanpa tujuan, dari terminal sampai kembali lagi ke terminal, hanya untuk menikmati pemandangan pedesaan dan munculnya bunga-bunga pertama di musim semi. Kadang kami mampir di IKEA hanya untuk membeli satu cone gelato. Sejak saat itu dia adalah teman kencan yang paling setia sampai akhirnya saat ini dia mulai sibuk dan kedepannya akan punya kehidupannya sendiri. 

Orang tua membesarkan anak dan menyiapkan mereka untuk bisa hidup tmandiri anpa kita, tapi orang tua sering lupa untuk menyiapkan hati hidup tanpa mereka.