Dalam hidup, orang-orang akan datang dan pergi. Ada yang datang untuk menetap, ada pula yang hanya singgah untuk memberi pelajaran.
Pernah nggak bertemu orang yang hanya singgah sebentar, tetapi tak terlupakan? Tiba-tiba saya teringat pada orang-orang yang singgah itu, dan uniknya ternyata mereka semua adalah nenek-nenek 😁.
Nenek 1.
Namanya saya tidak pernah tahu, seorang warga Turki yang tinggal di Groningen, Belanda. Qadarullah, di malam-malam tarawih selama Ramadhan di masjid Selwerd Groningen, beliau selalu shalat di sebelah saya. Kami hanya bertukar senyum, dan bersentuhan bahu. Pernahmencoba komunikasi tapi gagal, karena beliau hanya bisa bahasa Turki dan saya hanya mengerti Bahasa Inggris. Di malam terakhir beliau mengundang saya datang ke rumahnya setelah Iedul Fitri dengan menuliskan alamatnya di secarik kertas. Entah bagaimana saya pun datang meskipun tak kenal sama sekali. Mungkin saking tak adanya kerabat yg bisa dikunjungi di negeri orang. Ternyata di sana beliau menjamu kami dengan berbagai makanan khas Turki yang luar biasa manisnya. Sampai saat ini saya tidak ingat wajah dan namanya, tetapi pertemuan singkat itu telah meninggalkan kenangan yang manjs pula.
Nenek 2.
Namanya Berarderli. Seorang Italia usia 83 tahun. Tinggal sendirian di apartemennya yang bersebelahan pintunya dengan apartemen saya. Setiap hari masih aktif belanja ke pasar jalan kaki, pulang menenteng sekantong besar buah-buahan dan sayur. Sering kali setiap Nabiel pulang dari Play groupnya, beliau memberi hadiah permen cokelat. Bahkan suatu kali beliau juga pernah mengundang kami untuk datang makan siang ke rumahnya dan membuatkan menu gnocchi yang begitu lezat. Keberadaan beliau seakan-akan selalu hadir menyambut kepulangan kami, meskipun kami tinggal di kota tanpa orang yang dikenal sama sekali.
Nenek 3.
Namanya saya tidak tahu. Seorang warga Uzbekistan. Kami duduk bersebelahan di Masjid Al Haram. Beliau melihat Quran yang saya pegang dengan takjub. "Ini Quran? Tanyanya?"
"Iya, " jawab saya.
"Bacaan Quranmu bagus," katanya.
Sejujurnya saya bingung, apa yang membuat bacaan saya bagus di tengah-tengah masjid Al Haram ini? Lalu beliau bercerita, di negaranya tak banyak yang bisa membaca Al Quran. Beliau menunjukkan buku di tangannya. Ini adalah Quran yang bisa kubaca. Sebuah buku dengan tulisan Uzbekistan yang tidak saya pahami. Sepertinya itu adalah Al Quran yransliterasi ke bahasa Uzbekistan. MasyaAllah, jarak Indonesia dan Mekkah itu lebih jauh daripada Uzbekistan dan Mekkah. Tetapi betapa beruntungnua saya lahir di Indonesia yang sangat mudah aksesnya untuk belajar Quran. Sebelum berpisah beliau memberi hadiah segwnggam kacang Almond dan kacang kenari yang masih tersimpan dalam kulitnya. Pertemuan sederhana tetapi terasa istimewa.
Nenek 4.
Namanya saya tidak tahu. Dari pakaiannya saya pikir beliau adalah orang Turki. Saat akan sholat subuh di masjid Al. haram, seperti biasa shaf-shafnya sudah penuh. Lalu tiba-tiba nenek ini memanggil saya dan mempersilakan duduk di sebelahnya. Saya tersenyum dan bertera kasih. Tidak ada lagi percakapan setelau itu. Usai sholat, saya akan melanjutkan thawaf wada' yang terpotong. Beliau menggamit lengan saya, mengeluarkan sehelai kerudung dari tas kecilnya. Hadiah... hadiah ... katanya. Saya pun menerima hadiah itu dengan senang hati, lalu menyimpan kerudung itu di tas dan lupa untukengeluarkannya sampai kami berpindah ke Madinah. Qadarullah diasjid Nabawi Ibu saya terjatuh dan tangan beliau patah. Saat saya panik membongkar tas mencari pertolongan pertama, muncullah kerudung pemberian sang nenek itu. Saya langsung memakai kerudung itu untuk mengikat lengan Ibu saya agar posisinya tidak bergerak menjelang ke rumah sakit. MasyaAllah, saat itu saya bersyukur dan kembali inginengucapkan terima kasihbpada sang Nenek yang entah di mana lagi kami bisa bertemu.
Begitulah benerapa kisah orang-orang yang pernah singgah. Entah siapa lagi yang akan kita temui selanjutnya, yang pasti semuanya pasti telah direncanakan oleh Allah.


No comments:
Post a Comment