Saturday, May 23, 2026

Tentang PR di SD Jepang

         Nabiel dan Yuuki-kun berburu serangga

SD di Jepang itu ada PR nggak sih? Ada tentunya. Ada PR setiap hari dan juga di waktu liburan 😂
Sepertinya sistem pendidikan Jepang memang didesign untuk melahirkan orang-orang yang tekun, telaten, dan pekerja keras. Mungkin cocok dengan negara mereka yang mempunyai banyak industri namun kekurangan tenaga kerja. 

Sejak kelas 1 SD, Nabiel setiap hari membawa pulang minimal 3 PR setiap hari. PR latihan menulis huruf kanji 1 halaman, PR matematika 1 halaman, dan PR membaca 1-2 halaman. Menurut gurunya saat itu, PR ini telah disesuaikan bebannya sesuai level. PR kelas 1 dapat di selesaikan dalam waktu 10 menit, kelas 2 diselesaikan dalam 20 menit, kelas 3 dalam 30 menit dan seterusnya hingga PR kelas 6 dapat diselesaikan dalam 60 menit. 

Tanpa drilling seperti ini mungkin akan sulit bagi mereka menghafalkan cara menulis dan membaca ribuan huruf kanji yang harus dihafalkan. Bisa bisa dibayangkan tanpa hafal huruf sebanyak itu mereka terancam buta huruf, tidak dapat membaca informasi yang ada di TV, koran, ataupun tulisan di jalanan. 

Mulai kelas 2 SD, PR pun bertambah 1 macam lagi. Yaitu PR menghafal perkalian 1-10 setiap malam disimak oleh orang tua. Berkat pengulangan setiap malam ini, sampai sekarang pun saat mengingat perkalian Nabiel otomatis berpindah ke mode Bahasa Jepang. Karena memori itulah yang tertanam sangat kuat. 

Oh ya, setiap akhir pekan, Nabiel juga punya PR menulis. Tugasnya adalah menuliskan pengalaman ataupun perasaannya di akhir pekan itu dalam satu halaman. Di hari senin tulisan itu akan dibaca oleh gurunya, diberi feedback dan komentar secara tertulis. 
Belum selesai sampai disitu. Yang paling mengerikan buat orang tua adalah PR saat liburan panjang musim panas. Setumpuk PR dibawa pulang yang harus dikumpulkan saat libur selesai. Saat libur ini ada PR matematika 1 buku, PR Bahasa Jepang 1 buku, PR menulis diary harian 1 buku, dan PR membuat produk apapun yang akan dipamerkan nanti saat masuk sekolah. Yang menarik selain mencatat kegiatan, anak-anak juga harus mencatat bagaimana kondisi cuaca setiap harinya. Hujan, berawan, cerah, berangin, atau badai. 

Sebetulnya tugas musim panas ini jika dijerjakan setiap hari mungkin tidak akan memakan waktu lebih dari 10 menit. Di sini mungkin mereka belajar tentang konsistensi dan ketekunan. Belajar untuk tidak menunda-nunda pekerjaan dan ditumpuk di akhir karena itu akan sangat menyulitkan. 

Terkait tanggung jawab terhadap tugas ini juga ada satu sistem yang menarik. Kalau ada siswa yang sakit, maka guru akan berkunjung ke rumah siswa. Namun, alih-alih membawakan makanan, guru datang membawa PR dan materi pelajaran yang teringgal. Kadang terasa tidak manusiawi memang. Tapi anak jadi belajar, saat sehari meninggalkan tanggung jawab, itu bukan berarti tanggungjawabmu hilang, tapi akan menambah pekerjaan di hari berikutnya.

Sungguh berat memang, tapi saat dewasa hal itu kenyataan pahit yang harus dihadapi. 
Meskipun begitu, anak-anak tetap masih punya banyak waktu bermain di luar bersama teman-temannya. Mereka masih sempat mencari serangga dan memeliharanya di rumah, bermain layang-layang di musim panas, pergi hiking, bermain di taman dsb. Karena memang hanya 10-60 menit saja waktu tambahan yang dibutuhkan untuk belajar di rumah. 

Saya tidak tahu apakah sistem pendidikan semacam ini ada hubungannya atau tidak, tapi begitu terlihat orang-orang dewasanya begitu all out dan serius dalam melaksanakan tanggung jawabnya dalam bekerja.. Petugas di kantor layanan publiknya pun memberikan pelayanan yang serius dan memuaskan. Betul mereka gajinya besar, tapi diikuti dengan etos kerja yang luar biasa pula. 

No comments:

Post a Comment