Apa saja sih tugas orang tua siswa di Jepang? Awalnya sempet kaget, karena banyak hal di luar dugaan 😆 Tapi lama-lama jadi paham mengapa Jepang bisa seteratur itu.
1. Mendaftarkan anak ke sekolah sesuai lokasi surat panggilan dr Pemkot. Kami mencoba minta pindah lokasi sekolah, tapi nggak diizinkan. Harus sesuai zonasi, tidak ada jalur lain kecuali swasta.
2. Membeli perlengkapan sekolah dengan segala perintilannya dan memberi nama setiap benda yang dibawa ke sekolah. Meskipun hanya sebatang lidi atau sebuah dadu. Harus diberi nama. Kalau baju seragam, namanya harus dijahit besar-besar di bagian dada dan celana. Sepatu juga dinamai. Payung pun dinamai, satu payung ditinggal di sekolah dan satu di rumah. Inilah the real sedia payung sebelum hujan ☔
3. Menyediakan lap pel 3 lembar per tahun untuk mengepel sekolah tiap hari, lap tangan handuk untuk digantung di meja masing-masing, dan sapu tangan yang diletakkan di kantong celana. Tidak disediakan tisu di sekolah.
4. Membaca surat edaran dari sekolah dan news letter dari sekolah dengan teliti. Orang tua tidak punya group khusus dengan guru, tidak punya no telp pribadi guru. Kalau ada keperluan penting harus menelepon ke telepon kabel sekolah. Pernah sekali Nabiel tidak ikut acara pementasan di hari Sabtu karena kami tidak teliti membaca surat dari sekolah. Padahal anaknya sudah latihan dari lama 😅
5. Menghadiri acara class visit untuk melihat anak-anak sedang belajar di kelas dan mengjadiri acara PTA (Parent teachers Association). Setiap acara di sekolah ini tidak pernah ada suguhan, bahkan air putih sekalipun 😄. Tiap orang sudah bawa tumbler masing-masing biasanya. Setelah selesai acara, semua orang mengangkat kursinya masing-masing dari aula dikembalikan ke gudang. Semuanya self service 😄
6. Melaksanakan piket patroli jalanan. Memantau keselamatan dan membantu anak-anak menyeberang jalan di rute yang dilalui anak-anak berjalan kaki dari rumah ke sekolah. 👷♀️
7. Setiap malam, ortu bertugas menyimak anak-anak membaca buku yang ditugaskan dan menyimak hafalan perkalian dan pembagian. Kemudian menuliskan berapa menit waktu yang dibutuhkan anak untuk bisa membaca tugas tersebut. Jika masih ada anak yang belum memenuhi standar waktu membacanya, maka kelas itu belum akan maju ke halaman selanjutnya. 👨🏫
8. Saat liburan musim panas, semua orang tua berkewajiban ikut serta mebersihkan halaman sekolah. Literally mencabuti rumput di lapangan sekolah bersama anak masing-masing. Yang tidak bisa hadir, boleh menggantinya di hari lain. 😆 Bahkan ketika TK orang tua membantu membersihkan sekolah secara keseluruhan, termasuk gosok-gosok keran dan kamar mandi 🤭
9. Saat kegiatan undokai (festival olah raga) yang biasanya menjadi sarana family gathering, orangtua bertugas hadir menyemangati anak, ikut bermain, dan membawa makanan dan minuman sendiri. Kalau khawatir panas, boleh bawa tenda sendiri juga. Rata-rata yang keluarganya banyak pada bawa tenda. 🎪 Kalau kami sih bawa payung sama tiker aja cukup 😅
10. Orang tua juga akan diminta mengajar di kelas anak. Berhubung saya bahasa Jepangnya alakadarnya, jadi kebagian mengajar cooking. Bikin pisang goreng masakan khas Indonesia 😆
11. Memeriksa menu bulanan. Setiap bulan akan dibagikan menu makan siang setiap hari untuk mengetahui jika ada menu yang membuat alergi atau menu yang tidak halal harus diganti dengan makanan sendiri.
12. Ikut menghadiri pelatihan evakuasi bencana bersama anak-anak di sekolah secara berkala. Pelatihannya tidak hanya di sekolah, tapi mencoba berjalan sekitar 2-3 km dari sekolah ke titik evakuasi jika terjadi gempa dan tsunami.
13. Mengajarkan agama dan baca Quran ke anak secara mandiri, karena di sekolah tidak ada pelajaran agama. Orang tua harus siap mengantar jemput anak laki-laki dari sekolah untuk Jumatan, karena tidak ada masjid di sekitar sekolah.
Bagaimana? Siap jadi ortu di Jepang? 😁


No comments:
Post a Comment