Wednesday, October 1, 2014

Perjalanan Unik di Istanbul

Blue Mosque Selepas Shubuh

Saat itu kami berkunjung ke Turki. Alhamdulillah pas dapat tiket pesawat Pegasus murah dari Schiphol ke Istanbul. Perjalanan ke Turki ini banyak cerita lucunya dan penuh dengan kejutan.

Tanpa diduga beberapa pekan sebelum keberangkatan, ternyata pak suami dapat tugas untuk menghadiri conference di Lisbon Portugal, tepat beberapa hari sebelum jadwal ke Turki. Karena penasaran dengan Kota Lisbon, akhirnya kami berangkat ke Lisbon bertiga (Suami, saya, dan Nabiel yang masih 1,5 tahun). Kami akan tinggal di Lisbon selama lima hari dan kembali ke Belanda tepat sehari sebelum tanggal keberangkatan ke Istanbul. Karena rumah kami jauh dari bandara, maka kami memutuskan untuk tidak pulang dulu ke Groningen, tapi menginap di rumah teman di Utrecht.

Kekacauan pun dimulai. Tanpa disangka, ketika turun dari pesawat TAP dari Lisbon, ternyata stroller Nabiel tidak ditemukan. Setelah ditanyakan ke petugas, ternyata pihak TAP lupa memasukkan Stroller tersebut ke pesawat, alias masih tertinggal di Lisbon. Walau pun sudah mengurus surat kehilangan, tapi kami tetap masih kebingungan. Jalan-jalan dengan balita tanpa stroller itu, benar-benar melelahkan. Kami juga sudah tidak ada kesempatan lagi untuk membeli stroller baru, karena toko-toko di Belanda malam itu sudah tutup. Akhirnya kami pasrah, berangkat ke Istanbul hanya dengan bermodal gendongan.

Kami mendarat di bandara Sabiha Gokcen yang berada di Istanbul bagian Asia,  maklumlah peswat yang kami gunakan termasuk kategori low cost. Bandara ini terletak sekitar 30 km dari area Sultan Ahmed, tempat hotel kami berada. Untuk yang belaum tau, Kota Istanbul itu terbelah dua, bagian daratan Asia dan Bagian Eropa, yang dihubungkan oleh sebuah jembatan panjang.

Perjuangan Menuju Hotel

Pada saat booking apartemen, pihak hotel menawarkan jasa penjemputan ke bandara, dengan biaya 25 eur per orang. Dengan alasan kepraktisan, kami menerima tawaran tersebut. Namun, setelah hampir satu jam kami menunggu, jemputan tak kunjung datang. Lalu kami menelepon pihak hotel dan menanyakan perihal tersebut. Ternyata katanya pihak hotel sudah mengirimkan jasa penjemputan ke bandara Kemal Attaturk, bukan ke Sabiha Cokcen. Salah alamat! Akhirnya kami disuruh naik shuttle sendiri dari bandara menuju hotel, padahal waktu itu sudah jam 9 malam, dan kami pun belum makan malam. Kenapa tidak makan saja di bandara? Alasannya sederhana : mahal ! hehe..

Shuttle bus ini menjanjikan untuk mengantar kami hingga ke alamat. Ketika kami menyebutkan nama hotelnya (Antik Hotel), sang pengemudi langsung paham dan mengatakan tau letak hotel kami. Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, kami diturunkan di depan sebuah hotel. Saat awal memasuki hotel tersebut, kami agak heran, karena nama yang tertulis di sana adalah ANTIQUE HOTEL bukan ANTIK HOTEL. Dan penampakannya pun hotel ini terlalu mewah untuk rate harga yang kami bayar. Lalu kami masuk untuk check in, dan ternyata benar, tidak ada daftar nama kami di hotel tersebut. Pihak ANTIQUE HOTEL ini membantu kami untuk menelepon ke ANTIK HOTEL menanyakan alamatnya, dan memesankan taksi untuk kami menuju ke sana. Fyuuh ternyata perjalanan belum berakhir, padahal sudah jam 10 malam. Alhamdulillah Nabiel tidak rewel meskipun kelelahan.

Kami diturunkan di depan ANTIK HOTEL, setelah membayar 10 euro. Kedatangan kami disambut begitu hangat oleh sang pemilik hotel. Hotel ini adalah hotel kecil yang pemiliknya langsung menjadi resepsionis pada malam itu. Hangat dan ramahnya sambutan pemilik hotel membuat kami urung untuk mengomel atas kejadian malam itu. Ternyata masih ada satu kejutan lagi. Apartemen yang kami pesan tidak berada di ANTIK HOTEL tempat kami diturunkan, tapi sekitar 300m dari sana. Kami diajak ke sebuah rumah kecil yang terletak di lantai 2. Tentu saja ini benar-benar di luar dugaan kami, karena tempat itu lebih mirip rumah warga dibandingkan dengan apartemen. Memang pada saat booking, gambar yang ditampilkan di website hotel ini adalah gambar hotel, bukan gambar apartemen. Tapi karena ada opsi apartemen dengan harga yang relatif murah, kami lebih memilih apartemen.

Ketika memasuki rumah tersebut, tampaknya sudah lama tidak di huni. Lantainya berdebu tebal. Tabung gas kompornya kosong, dan kulkasnya pun tidak dingin. Yang lebih anehnya lagi, lantainya miring, kasurnya dua single bed yang dijadikan satu, tapi tidak sama tinggi hihihi. Akhirnya karena sudah kelelahan kami hanya bisa tertawa miris dan tidak berniat untuk complain sama sekali. Lebih baik menikmati keunikan perjalanan ini dari pada mengutuki keadaan. Kegiatan yang pertama kali dilakukan setelah meletakkan barang adalah mengepel lantai. Seru bukan..hehehe..

Kota Tua Sultan Ahmed

Setelah beristirahat semalaman, pagi harinya energi kami sudah terisi kembali. Bahkan suami juga menyempatkan diri untuk sholat subuh di Blue Mosque. Setalah sarapan dan menyiapkan bekal untuk makan siang (lagi-lagi demi penghematan hehe), kami mulai berjalan menyusuri jalan-jalan kecil di area Sultan Ahmed. Area kota tua ini relatif kecil sehingga dapat dikelilingi dengan berjalan kaki. Di sepanjang jalan banyak pedagang karpet yang menawarkan barang dagangannya. Persis seperti para pedagang di pasar-pasar di Indonesia. Kalau ingin berbelanja pun, kita harus pandai-pandai menawar jika tidak ingin tertipu membayar dengan harga tinggi.
 
Pedagang Makanan di Lorong Pasar

Tujuan pertama kami adalah Topkapi Palace, Istana dan museum yang di dalamnya tersimpan pedang Rasulullah SAW. Pada saat kami sampai di sana, antrian sudah mengular sekitar 100m di depan loket penjualan tiket masuk. Kami mengantri dengan sabar, sambil sibuk menolak tawaran para calo yang menjual tiket masuk tanpa antri dengan harga yang lebih mahal. Harga tiket normal saja sekitar 12 TL per orang, bisa dibayangkan berapa harga tiket via calo??
 

Gerbang Topkapi Palace
Mengantri adalah pekerjaan yang paling tidak menyenangkan bagi balita. Nabiel pun mulai rewel. Kami yang letih karena harus menggendong selama perjalanan dari pagi pun menjadi kurang kesabaran menghadapi kerewelannya. Ketika akhirnya kami bisa masuk ke dalam Topkapi, kami sudah benar-benar lelah. Baru saja masuk, bukannya mengeksplore komplek istana tersebut, tapi malah mencari tempat duduk untuk beristirahat, dan lapangan luas untuk tempat Nabiel berlari-lari bebas. Setelah melihat-lihat dengan kilat isi komplek museum tersebut, dan tidak semua tempat sempat kami lihat karena terburu waktu, akhirnya kami pun keluar dari Topkapi Palace.

Tujuan selanjutnya adalah Blue Mosque. Kami datang bertepatan dengan waktu sholat zhuhur. Mesjid dengan lima menara ini, berdiri dengan megahnya di seberang Topkapi Palace. Pengunjungnya ramai, apalagi di waktu sholat. Langit-langitnya yang tinggi tampak begitu indah dihiasi oleh ukiran dan lampu hias yang menguntai anggun. Mesjid adalah tempat melepas lelah lahir dan batin. Saat sedang beristirahat, datang beberapa pemuda dan pemudi Turki yang tampak gemas pada Nabiel. Sampai-samapai mereka minta difoto bersama Nabiel.
 
Suasana di Dalam Blue Mosque

Setelah makan siang di sebuah warung kebab, kami melanjutkan perjalanan menuju Cistern. Setelah berputar-putar dan bertanya pada orang-orang akhirnya kami menemukan pintu masuknya yang lebih mirip seperti kantor kecil. Tidak heran, karena Cisterne ini adalah tempat penampungan air zaman romawi yang letaknya di bawah tanah. Lagi-lagi kami harus mengantri membeli tiket masuk ke dalam cistern ini. Suasana di dalamnya dingin, lembab dan remang-remang.
 
Suasana di dalam Cistern
Tepat di sebelah kiri tangga masuk terdapat sebuah studio foto mini yang menawarkan jasa berfoto dengan kostum tradisional Turki. Setelah mengenakan pakaian khas Turki kami pun difoto bagaikan raja, ratu dan pangeran di singgasananya. Setelah di foto, sang fotografer menawarkan kepada kami untuk memilih satu dari puluhan foto yang ingin dicetak. Rupanya mereka mengambil banyak sekali foto kami dengan berbagai pose, ada yang sendiri-sendiri ada juga yang bersama. Harga 1 foto beserta cetakannya adalah 15 TL. Di saat kami sedang kebingungan memilih foto-foto tersebut, mulailah mereka menjalankan rayuannya. Mereka menawarkan untuk memberikan semua file foto tersebut di dalam sebuah CD tanpa cetak foto, dengan harga 50 TL. Terang saja kami tidak mau menerima tawaran tersebut. Setelah tawar menawar akhirnya disepakati harga CD tersebut 25 TL. Belakangan kami baru sadar ternyata kostum yang dipakaikan ke Nabiel adalah kostum anak perempuan, bukan anak laki-laki. Sudahlah membayar mahal ternyata salah kostum pula. Alamak...!!!
 
Foto Kostum Turki

Tujuan selanjutnya adalah Grand Bazar, pasar pusat suvenir dan barang-barang khas Turki. Pasar ini begitu besar dan penuh dengan lorong-lorong. Barang yang dijual pun hampir sama. Jika tidak berhati-hati bisa-bisa kita kebingungan mencari jalan keluar dari pasar ini. Kemampuan tawar menawar sangat dibutuhkan di pasar ini. Saya yang terbiasa berbelanja dengan harga pas, jadi kehilangan semangat belanja di pasar ini, karena takut kemahalan membeli barang. Setelah membeli beberapa suvenir, kami pun meninggalkan Grand bazar.
 
Grand Bazaar

Keesokan paginya, kami kembali berjalan dari hotel menuju ke Hagia Sophia. Sama seperti objek wisata yang lain, meski pun kami sudah berusaha datang pagi hari, ternyata antrian di depan loket penjualan tiket sudah panjang. Tapi, tiba-tiba seorang petugas memanggil kami dan membukakan jalur masuk khusus, katanya karena kami membawa balita, jadi sebaiknya tidak mengantri terlalu lama. Alhamdulillah..
Masuk ke dalam Hagia Sophia, kami pun mulai mengagumi keindahan gedung yang dulunya pernah dijadikan tempat sholat jumat oleh Muhammad Alfatih tersebut. Tulisan Allah dan Muhammad berukuran raksasa tergantung indah di bagian depan ruangan. Sinar matahari masuk melalui kaca-kaca yang menghiasi dinding Hagia Sophia.
 
Hagia Sophia

Selat Bosphorus dan Mesjid Sulaimaniye

Siang harinya kami menuju ke selat Bosphorus dan mengikuti boat tour sekitar 2 jam dengan biaya 20 TL. Selama tour kami menyaksikan keindahan kota Istanbul dari lautan, bangunan-bangunan bersejarah, dan benteng pertahanan. Kami juga singgah di Meiden Tower dan Kanlica sebuah desa yang sangat terkenal dengan yoghurtnya yang lezat. Yoghurt yang disajikan adalah yoghurt tanpa rasa dengan taburan gula halus di atasnya. Hingga saat ini saya belum pernah lagi menemukan yoghurt yang seenak di tempat tersebut.
Pemandangan dari Kapal


Yoghurt Kanlica

Meiden Tower
Usai mengelilingi selat Bosphorus, kami pun mengunjungi Mesjid Sulaimaniye. Mesjid ini dibangun pada tahun 1550 oleh Sultan Sulaiman dari Dinasti Ottoman. Struktur dan desain mesjid ini dibuat sama dengan Hagia Sophia. Dalam perjalanan pulang dari mesjid ini, tiba-tiba Nabiel muntah. Tampaknya dia masuk angin dan kecapean. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang dengan taksi.
 
Mesjid Sulaimaniye
Kami sampai di penginapan sudah agak malam. Ternyata sepatu nabiel tertinggal sebelah di Taksi, haduuhh!! Padahal besok paginya sebelum subuh kami sudah harus check out menuju bandara. Suami pun mencoba menuyusuri jalan di sekitar hotel, berharap menemukan toko sepatu anak yang masih buka. Tiba-tiba seorang laki-laki pelayan hotel mendekati, dan menawarkan bantuan. Dia akan mengantar suami dengan mobilnya ke toko sepatu, namun syaratnya mau menggunakan jasa pijat di hotelnya. Tukang pijatnya boleh pilih laki-laki atau perempuan. Terang saja suami saya menolak tawaran mencurigakan tersebut dan langsung kembali ke hotel. Jadilah keesokan harinya Nabiel pulang ke Belanda naik pesawat dan kereta dengan mengenakan sebelah sepatu saja :D Maafkan ummi, Nak..

Banyak pengalaman unik di Istanbul, semoga suatu saat diberi kesempatan untuk kembali ke sana tanpa kerempongan dan kejutan-kejutan unik lagi.. Aamiin..





Wednesday, September 24, 2014

Sejenak Berpetualang ke Abad 19 di Dickens Festijn

Seluruh foto dalam artikel ini diambil oleh Syarif Riadi

Menghirup atmosfer abad 19 di era milenium saat ini tentu mempunyai sensasi tersendiri. Berjalan di antara deretan gedung-gedung tua, dengan dikelilingi bangsawan Inggris masa lalu yang bertopi bundar dan bergaun panjang, seakan membuat kita berada dalam dalam film-film barat tempo dulu. Sensasi itulah yang dinikmati oleh para pengunjung Dickens Festijn, Festival kostum yang membuat ratusan karakter dalam novel Charles Dickens menjelma menjadi nyata.

Chaarles Dickens
Charles Dickens adalah novelis asal Inggris yang ternama di masa pemerintahan Ratu Victoria. Pria kelahiran Portsmouth pada tahun 1812 ini dikenal melalui novel-novelnya yang masih digemari hingga hari ini. Karirnya berawal dari seorang wartawan media “The Mirror of Parliament”. Pada tahun 1837 novel pertamanya “The Pickwick Papers” diterbitkan, dan mulai terkenal dengan munculnya tokoh Sam Waller dalam novel tersebut. Saat itu Dickens memakai nama pena “Boz”.

Kisah-kisah di dalam novel Dickens kebanyakan bercerita tentang anak-anak yang berusaha menghadapi kesulitan hidup di masa kecilnya. Alur ceritanya kadang-kadang menegangkan bahkan menakutkan.



Cerita dalam bukunya tersebut banyak terinspirasi dari pengalaman hidup Dickens yang tidak mudah di waktu ia kecil. Ayahnya sempat masuk penjara akibat tidak mampu membayar utang, sehingga Dickens yang berusia 12 tahun terpaksa meninggalkan sekolah dan bekerja sebagai buruh. Tiga tahun setelah itu Dickens dapat kembali bersekolah. Namun, pengalaman pahit tersebut tidak dapat terlupakan, dan tercurahkan ke dalam dua karyanya yang terkenal, yaitu David Copperfield, dan Great Expectations. Mr. Micawber, dalam novel David Copperfield adalah tokoh yang terinspirasi dari kisah ayahnya sendiri. Film yang berjudul David Copperfield merupakan hasil karyanya yang sudah difilmkan. Karya-karyanya yang lain adalah Oliver Twist, A Christmas Carol, Nicholas Nickleby, dan A Tale of Two Cities.


Dickens Festijn

Warga dan para pemilik toko di Kota Deventer sejak tahun 1990 berinisiatif memulai tradisi festival yang dinamai Dickens Festijn ini. Mereka mengenakan kostum yang menggambarkan tokoh-tokoh dalam Novel Charles Dickens. Kurang lebih 950 orang terlibat mengenakan kostum tersebut. Mereka berkumpul dan melakukan atraksi-atraksi menarik di daerah kota tua Deventer yang terletak di bagian timur tengah Belanda.  Acara ini tentunya juga didukung oleh pemerintah daerah Deventer, Propinsi Overijssel, beserta sponsor-sponsor lainnya.

Deventer adalah kota tua yang membentang di pinggiran sungai Ijssel. Kota ini termasuk salah satu dari kota tertua di Belanda. Anda dapat menemukan monumen hampir di setiap sudutnya. Rumah-rumah tertua, taman tertua, dan perpustakaan sains yang tertua di Belanda, merupakan kekayaan tak ternilai kota ini. Beberapa bangunan yang popular di kota Deventer antara lain gedung balai kota, Gereja Lubuinus, komplek rumah tua Noordenbergkwartier, Museum Sejarah, dan Toys & Tin Museum.

Tidak heran jika tempat  ini sangat cocok menjadi latar festival Dickens. Bangunan di kawasan Bergkwartier adalah rumah-rumah berumur ratusan tahun yang masih terpelihara. Jalanan yang berlapis paving block abu-abu itu  dengan mudah disulap menjadi sebuah kota di Inggris, pada zaman Ratu Victoria. Pohon-pohon cemara yang tinggi, lampu hias mungil berwarna-warni, dan alunan lagu paduan suara memberi sentuhan kehangatan pada musim dingin yang beku.

Jika Anda adalah penggemar Novel-novel Dickens, di festival ini Anda akan bertemu dengan Scrooge, Oliver Twist, Mr. Pickwick, Christmas carolers, anak-anak yatim piatu, pemabuk, pegawai kantoran, si miskin dan para bangsawan. Mereka semua datang dari masa lalu dan berjalan hilir mudik di sekitar Anda. Aroma English Punch, puffed potatoes dan buah berangan panggang membuat pengunjung semakin hanyut dalam kisah-kisah Dickens, seakan meninggalkan kota Deventer dan terbang menuju Inggris.


Kalaupun tidak terlalu mengenal Dickens bahkan mungkin baru mendengar untuk pertamakalinya, Anda tetap dapat menikmati sensasi berada di tengah ratusan orang-orang berkostum Inggris zaman dulu. Para wanita mengenakan gaun panjang yang mengembang, dan para prianya mengenakan tuksedo lengkap dengan topi tinggi ala pemain sulap. Ada yang berjalan kaki, mengendarai sepeda beroda satu, ada pula yang naik kereta kuda. Mereka dengan senang hati bersedia berfoto dengan Anda. Tidak ketinggalan, lokomotif kereta api batu bara serta mobil-mobil antik juga ikut meramaikan festival ini.


Di festival ini Anda dapat menyaksikan beberapa wanita yang sedang menggunakan mesin cuci zaman dulu yang diputar dengan tangan. Baju-baju bergantungan di tali jemuran yang terbentang di pinggir jalan. Para pengemis jalanan duduk terpekur menunggu uluran tangan sang dermawan. Para pencopet gadungan siap beraksi menunggu bangsawan yang lengah. Penyanyi jalanan melantunkan lagu-lagu dengan merdu dari pintu ke pintu. Anak-anak yatim menangis sambil mendorong kereta jenazah ayahnya. Semua aktivitas itu mereka lakukan seharian seakan tidak peduli dengan udara dingin yang membelai wajah mereka.




Setelah lelah menyaksikan atraksi di jalanan, pengunjung dapat mampir bertamu ke rumah-rumah yang telah berubah menjadi cafe-cafe kecil. Anda dapat beristirahat sejenak, menghangatkan diri  sambil menikmati minuman dan makanan kecil khas Inggris. Alternatif lain, Anda juga dapat membeli erwtensoep, sup kacang polong khas Belanda, dengan ditemani coklat hangat. Para pramusaji café-café tersebut juga tidak ketinggalan ikut mengenakan kostum bertema Dickens. Pengunjung juga dapat membeli kue jahe dengan bungkus yang bertema Charles Dickens. Kue ini bisa dibawa pulang sebagai buah tangan untuk keluarga tercinta.


Dickens Festijn biasanya diadakan di pekan ke-3 bulan Desember sebelum perayaan natal. Waktu ini sangat sesuai dengan latar novel yang berjudul A Christmas Carol. Tapi, pada tahun 2013 ini Dickens Festijn diadakan pada tanggal 14 dan 15 Desember mengingat tanggal 21 dan 22 terlalu dekat dengan perayaan natal, sehingga kepadatan kota Deventer akan semakin bertambah.  Festival dimulai sejak pukul 11.00 pagi hingga pukul 17.00 petang. Pada tahun 2013 pengunjung Dickens Festijn relatif berkurang jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, hanya sekitar 140 ribu orang.

Setiap tahunnya kurang lebih 150 ribu orang pengunjung tumpah ruah memenuhi pusat kota Deventer untuk menyaksikan festival ini. Umumnya mereka datang dari Belanda dan Jerman. Para pengunjung rela berdingin-dingin berdiri dalam antrean selama 1,5 jam untuk menunggu giliran masuk. Jumlah pengunjung yang diperbolehkan masuk dalam waktu yang bersamaan dibatasi. Hal ini bertujuan agar area festival tidak terlalu penuh sesak, sehingga pengunjung masih bisa menikmati suasana festival dan berpetualang ke abad 19. Beberapa orang penduduk berkostum unik itu berlalu lalang di dekat jalur antrean. Mereka menjadi hiburan bagi para pengunjung yang masih menunggu giliran masuk.


Pintu masuk ke area festival terletak di Walstraat. Dua orang berkostum tentara kerajaan Inggris menjaga pintu masuk dengan tombak berada di tangan. Seluruh pengunjung mengantre dengan sabar menunggu gilirannya dipersilakan masuk oleh  sang prajurit berbaju merah tersebut. Antrean terpanjang biasanya terjadi sekitar pukul 11.00-13.00. Masuk ke area festival ini tidak dipungut biaya. Bayarannya cukuplah dengan kesabaran menunggu giliran masuk dan mengantre dengan tertib.


 Pameran dan Pasar
Pada tahun 2012 dalam rangka memperingati 200 tahun Dickens, digelar pameran “Dickens in Miniature”. Pameran ini diadakan di Bergkerk tidak jauh dari area festival. Beragam karakter dan adegan di dalam novel Dickens divisualisasikan dalam bentuk miniatur semacam rumah boneka. Pameran ini diikuti oleh peserta dari dalam maupun luar Belanda.

Selain dickens Festival, pada waktu yang bersamaan di Kota Deventer juga terdapat pasar natal. Kurang lebih 200 stan memenuhi alun-alun kota. Berbagai macam barang dijual disana. Mulai dari makanan hingga pernak-pernik lucu. Di sekitar Gereja St. Maria juga diadakan pasar barang antik dan Flea Market (pasar barang bekas). Di pasar tersebut pengunjung dapat membeli piring-piring, dan pajangan keramik antik produk Inggris, Jerman, dan Belanda dengan harga sangat miring. Selain itu juga ada yang menjual gelas-gelas kristal Bohemia dengan harga terjangkau. Jika beruntung Anda dapat membeli mainan dari berbagai dekade, pakaian, buku, dan pajangan berkualitas tinggi di flea market dengan harga sangat murah. Kadang kala ada beberapa dari barang tersebut yang masih berlabel sebagai pertanda belum pernah dipakai oleh pemilik sebelumnya.

Tips Berkunjung ke Dickens Festijn
Mendatangi Dickens Festijn berarti Anda harus siap-siap bertahan melawan dingin selama beberapa jam. Pakaian yang hangat akan membuat petualangan Anda menjadi nyaman. Topi, syal, dan sarung tangan jangan sampai ketinggalan. Tidak ada salahnya jika membawa minuman hangat dan makanan kecil untuk menemani Anda selama berada di jalur antrean. Jika tak ingin  menunggu terlalu lama, sebaiknya Anda sudah berada di lokasi sejak jam 9 pagi, 2 jam sebelum festival dimulai.


Tempat festival dapat dicapai dengan mobil melalui jalur A1 dari Amsterdam. Jika menggunakan kereta api dari bandara Schiphol, membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam. Harga tiket kereta api sekali jalan, adalah  18 euro (skitar Rp. 270 ribu). Area festival (Bergkwartier) terletak di sebelah selatan stasiun dan dapat ditempuh dengan berjalan kaki.

Tuesday, September 23, 2014

PULAU-PULAU DI LAGUNA VENEZIA

Burano
Siapa yang tak kenal Venezia, salah satu kota paling cantik dan romantis di Italia bahkan di seluruh dunia. Kota yang terkenal dengan kanal, gondola dan jembatannya ini tak pernah sepi dikunjungi oleh wisatawan dari berbagai penjuru dunia.

Jika ingin menjauh dari keramaian serta melihat sejarah dan budaya masyarakat Venezia lebih dekat, Anda bisa mengunjungi pulau-pulau kecil yang berada di laguna Venezia. Burano, Murano, dan Torcello adalah tiga pulau yang terletak di utara Venezia yang banyak menarik perhatian para wisatawan. Pulau-pulau tersebut selain menawarkan pemandangan yang indah, juga warisan budaya tradisional yang masih lestari. Ketiga pulau ini dapat dikunjungi dengan kapal ferry atau kapal wisata dengan waktu perjalanan hanya sekitar 45 menit darinVenezia.

Warna Warni Burano


Pulau ini dikenal dengan rumah-rumah nelayannya yang dipoles dengan beragam warna yang cerah. Menurut legenda, para petani mewarnai rumahnya dengan warna cerah agar mereka dapat melihat rumahnya dari kejauhan ketika sedang melaut.

Umumnya rumah-rumah di Burano berbentuk kotak, saling menyambung, dan terdiri dari dua atau tiga lantai. Lantai dasar biasanya digunakan untuk dapur, kamar mandi, dan ruang makan. Sedangkan kamar terletak di lantai atas. Rumah berwarna warni ini tampak begitu indah berjajar di sepanjang kanal yang dihiasi oleh perahu para nelayan tradisional. Bunga-bunga dan hamparan jemuran pakaian di depan rumah menambah hidup suasana.


Burano juga terkenal dengan kerajinan sulam rendanya yang cantik dan halus (marletto). Keterampilan ini telah ditekuni para wanita di Burano sejak ratusan tahun yang lalu. Setiap orang menguasai dan hanya menggunakan satu teknik renda saja. Satu produk sulam renda yang bagus bisa diselesaikan dalam waktu dua hingga tiga bulan. Tidak heran jiga harganya relatif mahal. Sebagai contoh, sebuah taplak meja makan besar, dengan sulaman sangat sederhana biasanya dijual dengan harga 60 euro (sekitar Rp. 900 ribu). Kerajinan sulam renda ini merupakan salah satu penunjang perekonomian masyarakat di pulau Burano.


Pulau Burano juga punya museum renda (Museo del Marletto). Di tempat ini diperagakan sejarah kerajinan marletto, perkembangannya, dan hasil-hasil karya terbaiknya. Pengunjung juga dapat menyaksikan para wanita asik merenda sambil bercerita dan bersenda gurau.

Pulau Burano mempunyai satu menara miring. Menara ini adalah bagian dari gereja San Martino yang terletak di Piazza Baldassare Galuppi. Menara miring ini didirikan pada abad ke-18. Di tempat ini juga disimpan lukisan-lukisan karya Gian Battista Tiepolo.

Toko Marletti dengan Latar Belakang Menara Miring


Gelas Cantik Murano


Pulau Murano terletak 1,5 km di arah utara Venezia. Pulau ini terdiri dari 7 pulau kecil yang dihubungkan oleh jembatan-jembatan. Murano terkenal dengan seni kerajinan dari kaca atau gelas. Kualitas kerajinan gelas Murano sudah diakui oleh dunia iternasional. Produknya antara lain lampu, pajangan, dan perhiasan. Karena buatan tangan dan kualitasnya yang bagus, harga gelas Murano pun sungguh mahal. Satu lampu hias saja bisa mencapai 100.000 euro.

Pada tahun 1291 seluruh seniman pembuat gelas di Venezia, diperintahkan untuk pindah ke pulau Murano, untuk menghindari resiko kebakaran. Pada saat itu kebanyakan bangunan di Venezia terbuat dari kayu. Para maestro terus mengembangkan teknik pembuatan gelas yang mereka miliki, mulai dari gelas kristal, gelas berwarna warni, hingga gelas berhias emas.

Jika Anda berkunjung ke Murano, beberapa perusahaan gelas mengadakan pertunjukan seni pembuatan gelas oleh sang maestro. Pertunjukan ini dimulai dari pemanasan bahan gelas, peniupan, memberi bentuk dan warna, hingga menghasilkan sebuah karya yang indah. Para seniman tersebut membuatnya dengan piawai dan cekatan. Sebuah bola kaca dalam waktu sekejap bisa berubah menjadi patung kuda yang indah. Sungguh menakjubkan.

Jika Anda ingin membeli produk gelas Murano ini, tempat yang terbaik adalah di galeri perusahaan gelas yang ada di Murano. Dengan begitu kita bisa yakin akan keasliannya dan juga dilengkapi dengan sertifikat. Saat ini, di Venezia banyak sekali dijual barang tiruan gelas Murano dengan harga yang jauh lebih murah.

Di Pulau Murano terdapat Museum Gelas Murano (Museo del Vetro) yang terletak di Fondamenta Marco Giustiniani.. Museum bergaya gothic ini menceritakan tentang sejarah seni pembuatan gelas dan juga menyimpan koleksi vas, cawan, patung, karya para maestro ternama seperti Lorenzo Santi dan Giovanni Fuga.

Torcello Saksi Sejarah Venezia


Torcello adalah pusat peradaban di laguna Venezia sekitar 1500 tahun yang lalu. Pada awalnya pulau ini dijadikan tempat perlindungan dari serangan Bangsa Barbar. Seiring berjalannya waktu masyarakat di pulau ini terus berkembang hingga populasinya mencapai 20.000 orang. Serangan malaria membuat warga di Pulau Torcello tidak dapat bertahan dan pindah ke Murano, Burano atau Venezia.

Saat ini Torcello menjadi pulau yang hijau, sunyi, dan penuh misteri. Hanya sekitar 20 orang warga yang masih berdomisili di sana. Pulau ini menjadi kawasan cagar alam yang hanya boleh dilintasi dengan berjalan kaki. Bangunan dan penginapan di pulau ini masih tampak seperti dulu.

Berjalan menyusuri kanal kecil yang bersih dan tenang, ditemani oleh kicauan burung, memberikan suasana yang menenangkan. Tak banyak orang yang tampak berlalu lalang. Sebuah jemmbatan putih melengkung tanpa pengaman di kedua sisinya, membentang anggun di atas kanal. Jembatan yang dibangun pada abad ke-15 ini dikenal dengan nama “Jembatan Setan”. Asal usul nama tersebut masih belum jelas hingga saat ini.


Peninggalan kejayaan Pulau Torcello yang masih dapat dilihat sampai sekarang adalah Katedral Basilica Santa Maria Assunta. Katedral ini didirikan pada tahun 639. Di dalamnya terdapat mosaik Bizantium, yang terkenal adalah Last Judgement. Di sebelah katedral berdiri gereja Santa Fosca yang dibangun pada abad ke -11. Di seberang Katedral terdapat museum kecil yang menyimpan artefak-artefak zaman medieval yang ditemukan di Pulau Torcello.









Tuesday, August 12, 2014

Festa del Majo


Pagi hari di depan Piazza San Giustino Chieti, tampak serombongan orang berpakaian tradisional Abruzzo yang dihias dengan bunga-bunga cantik. Mereka adalah peserta parade Festa del Majo yang dilaksanakan pada tanggal 1 Mei. Festival ini adalah parade terakhir di musim semi, untuk menyambut kedatangan Bulan Mei yang dianggap sebagai awal musim panas dan pertanda bahwa waktunya petani mulai bekerja.



Pada abad pertengahan, sudah menjadi tradisi masyarakat Eropa berpesta menyambut kedatangan bulan Mei. Para pemuda di pedesaan mengumpulkan bunga-bunga liar dan ranting pohon akasia. Kemudian mereka bernyanyi dan menari di depan jendela rumah wanita pujaannya, lalu menanam ranting tersebut di depan rumah sang gadis. Ada juga yang meletakkan hadiah kecil, seperti saputangan, di ranting tersebut. Para petani pun bersuka ria, karena mereka akan kembali ke kebun. Sayangnya tradisi ini terhenti pada saat perang dunia pertama.

Festa del Majo kembali dilaksanakan di Chieti Italia sejak tujuh tahun yang lalu. Chieti adalah salah satu Ibu kota Propinsi di region Abruzzo. Sebuah traktor berhias bunga-bunga berada di barisan paling depan. Kendaraan pertanian ini menggeret sebuah gerobak yang diatasnya terdapat sebuah boneka yang melambangkan “Majo” dan seorang pemuda bertopi kerucut tinggi. Dulunya topi kerucut ini dibuat dari bingkai tebu yang ditutupi dengan jerami dan bunga-bunga.
Pemuda bertopi kerucut tinggi

Arak-arakan di depan San Giustino

Traktor sebagai penghulu barisan

Festival ini dimeriahkan oleh group musik tradisional Abruzzo. Lima orang lelaki mengiringi lagu dan tarian dengan accordeon, tamborin, dan sebuah alat musik besar berbentuk tabung kayu, yang menghasilkan suara seperti terompet besar. Parade ini dimulai dari depan gereja San Giustino, melewati jalanan di pusat kota tua Chieti, dan berakhir di Villa Communale, taman kota Chieti.
Salah satu alat Musik Tradisional Abruzzo
Lagu “Nyanyian Duabelas Bulan” (Canti Dodici Messi) dinyanyikan di depan Palazzo del Mayo. Lagu ini menggambarkan karakteristik setiap bulan dalam setahun, dan kaitannya dengan aktivitas para petani di setiap bulan tersebut. Acara dilanjutkan dengan tarian “Il Ballo del Palo”. Tarian ini menggambarkan perjalanan sebatang pohon dalam setahun, bertunas, berbunga, kemudian gugur kembali daunnya. Tari ini dimainkan oleh beberapa pasang penari yang mengelilingi sebuah tiang berpita di tengah. Dengan lihainya mereka menari sambil menganyam pita yang berwarna-warni tersebut.




Video Tarian Il Ballo del Palo

Perayaan berlanjut dengan tarian Saltarelle hingga masuk waktu waktu makan siang . Pengunjung dapat mencicipi hidangan kuno " lessagne " khas dari Teramo . Upacara diakhiri dengan pembakaran patung Majo.


Alberobello

Trulli di Rione Monti
Trullo (Jamak:Trulli) adalah rumah tradisional dari Region Puglia, Italia bagian selatan. Ciri khas rumah ini adalah berbentuk persegi, beratap kerucut, yang terbuat dari susunan batu.Dindingnya yang sangat tebal membuat temperatur di dalam ruangan relatif tetap, hangat di musim dingin dan sejuk di musim panas. Trullo umumnya dapat ditemukan tersebar di kebun-kebun zaitun dan anggur yang terhampar luas di Puglia.
Trullo yang belum di pugar

Suasana di dalam Trullo yang berusia 500 tahun

Di kota Alberobello, terdapat sekitar 1.500 trulli yang letaknya terlokalisasi. kawasan ini masuk ke dalam daftar situs warisan dunia Unesco karena keunikannya.



Awalnya Alberobello adalah area hutan (Albero=pohon bello=cantik/indah). Seorang penguasa lahan memindahkan pekerjanya ke Alberobello untuk merambah hutan dan menjadikannya perkebunan.Para pekerja harus tinggal di trulli untuk menghindari pajak. Menurut peraturan saat itu, trulli tidak dianggap sebagai pemukiman permanen karena dibangun tanpa menggunakan semen. JIka sewaktu-waktu ada pemeriksaan, maka rumah-rumah ini dengan sangat mudah dihancurkan.

Saat ini trulli kebanyakan sudah dipugar dan berubah menjadi hotel, cafe, toko, atau tempat tinggal. Uniknya seluruh trulli di Alberobello dicat dengan warna putih.





Kami mengunjungi Alberobello pada tanggal 2 Agustus 2014. Dari Stasiun Bari Centrale, kami menaiki kereta FSE(FErrovie Sud-Est) dengan tujuan akhir Martina Franca, harga tiket sekitar 4 euro sekali jalan. Waktu perjalaan dari kereta sekitar 1 jam, hingga sampai di stasiun Alberobello. Hamparan kebun zaitun dan anggur di sepanjang jalan membuat waktu 1 jam terasa singkat. Dari stasiun, satu-satunya cara menuju kawasan trulli adalah dengan berjalan kaki sekitar 25 menit. Cukup jauh, namun petunjuk jalannya cukup mudah untuk diikuti.
Aia Picola

Rione Monti

Area Trulli terbagi dua yaitu Rione Monti dan Aia Picola. Rione monti adalah kawasan turistik yang ramai dikunjungi wisatawan, serta dipenuhi oleh toko-toko suvenir dan cafe. Sedangkan kawasan Aia picola, adalah kawasan perumahan yang relatif tenang dan sepi.Tidak jauh dari area Aia Picola, terdaapat view point (belvedere), untuk mengambil foto trulli dari ketinggian.

Pemandangan dari belvedere