Wednesday, September 24, 2014

Sejenak Berpetualang ke Abad 19 di Dickens Festijn

Seluruh foto dalam artikel ini diambil oleh Syarif Riadi

Menghirup atmosfer abad 19 di era milenium saat ini tentu mempunyai sensasi tersendiri. Berjalan di antara deretan gedung-gedung tua, dengan dikelilingi bangsawan Inggris masa lalu yang bertopi bundar dan bergaun panjang, seakan membuat kita berada dalam dalam film-film barat tempo dulu. Sensasi itulah yang dinikmati oleh para pengunjung Dickens Festijn, Festival kostum yang membuat ratusan karakter dalam novel Charles Dickens menjelma menjadi nyata.

Chaarles Dickens
Charles Dickens adalah novelis asal Inggris yang ternama di masa pemerintahan Ratu Victoria. Pria kelahiran Portsmouth pada tahun 1812 ini dikenal melalui novel-novelnya yang masih digemari hingga hari ini. Karirnya berawal dari seorang wartawan media “The Mirror of Parliament”. Pada tahun 1837 novel pertamanya “The Pickwick Papers” diterbitkan, dan mulai terkenal dengan munculnya tokoh Sam Waller dalam novel tersebut. Saat itu Dickens memakai nama pena “Boz”.

Kisah-kisah di dalam novel Dickens kebanyakan bercerita tentang anak-anak yang berusaha menghadapi kesulitan hidup di masa kecilnya. Alur ceritanya kadang-kadang menegangkan bahkan menakutkan.



Cerita dalam bukunya tersebut banyak terinspirasi dari pengalaman hidup Dickens yang tidak mudah di waktu ia kecil. Ayahnya sempat masuk penjara akibat tidak mampu membayar utang, sehingga Dickens yang berusia 12 tahun terpaksa meninggalkan sekolah dan bekerja sebagai buruh. Tiga tahun setelah itu Dickens dapat kembali bersekolah. Namun, pengalaman pahit tersebut tidak dapat terlupakan, dan tercurahkan ke dalam dua karyanya yang terkenal, yaitu David Copperfield, dan Great Expectations. Mr. Micawber, dalam novel David Copperfield adalah tokoh yang terinspirasi dari kisah ayahnya sendiri. Film yang berjudul David Copperfield merupakan hasil karyanya yang sudah difilmkan. Karya-karyanya yang lain adalah Oliver Twist, A Christmas Carol, Nicholas Nickleby, dan A Tale of Two Cities.


Dickens Festijn

Warga dan para pemilik toko di Kota Deventer sejak tahun 1990 berinisiatif memulai tradisi festival yang dinamai Dickens Festijn ini. Mereka mengenakan kostum yang menggambarkan tokoh-tokoh dalam Novel Charles Dickens. Kurang lebih 950 orang terlibat mengenakan kostum tersebut. Mereka berkumpul dan melakukan atraksi-atraksi menarik di daerah kota tua Deventer yang terletak di bagian timur tengah Belanda.  Acara ini tentunya juga didukung oleh pemerintah daerah Deventer, Propinsi Overijssel, beserta sponsor-sponsor lainnya.

Deventer adalah kota tua yang membentang di pinggiran sungai Ijssel. Kota ini termasuk salah satu dari kota tertua di Belanda. Anda dapat menemukan monumen hampir di setiap sudutnya. Rumah-rumah tertua, taman tertua, dan perpustakaan sains yang tertua di Belanda, merupakan kekayaan tak ternilai kota ini. Beberapa bangunan yang popular di kota Deventer antara lain gedung balai kota, Gereja Lubuinus, komplek rumah tua Noordenbergkwartier, Museum Sejarah, dan Toys & Tin Museum.

Tidak heran jika tempat  ini sangat cocok menjadi latar festival Dickens. Bangunan di kawasan Bergkwartier adalah rumah-rumah berumur ratusan tahun yang masih terpelihara. Jalanan yang berlapis paving block abu-abu itu  dengan mudah disulap menjadi sebuah kota di Inggris, pada zaman Ratu Victoria. Pohon-pohon cemara yang tinggi, lampu hias mungil berwarna-warni, dan alunan lagu paduan suara memberi sentuhan kehangatan pada musim dingin yang beku.

Jika Anda adalah penggemar Novel-novel Dickens, di festival ini Anda akan bertemu dengan Scrooge, Oliver Twist, Mr. Pickwick, Christmas carolers, anak-anak yatim piatu, pemabuk, pegawai kantoran, si miskin dan para bangsawan. Mereka semua datang dari masa lalu dan berjalan hilir mudik di sekitar Anda. Aroma English Punch, puffed potatoes dan buah berangan panggang membuat pengunjung semakin hanyut dalam kisah-kisah Dickens, seakan meninggalkan kota Deventer dan terbang menuju Inggris.


Kalaupun tidak terlalu mengenal Dickens bahkan mungkin baru mendengar untuk pertamakalinya, Anda tetap dapat menikmati sensasi berada di tengah ratusan orang-orang berkostum Inggris zaman dulu. Para wanita mengenakan gaun panjang yang mengembang, dan para prianya mengenakan tuksedo lengkap dengan topi tinggi ala pemain sulap. Ada yang berjalan kaki, mengendarai sepeda beroda satu, ada pula yang naik kereta kuda. Mereka dengan senang hati bersedia berfoto dengan Anda. Tidak ketinggalan, lokomotif kereta api batu bara serta mobil-mobil antik juga ikut meramaikan festival ini.


Di festival ini Anda dapat menyaksikan beberapa wanita yang sedang menggunakan mesin cuci zaman dulu yang diputar dengan tangan. Baju-baju bergantungan di tali jemuran yang terbentang di pinggir jalan. Para pengemis jalanan duduk terpekur menunggu uluran tangan sang dermawan. Para pencopet gadungan siap beraksi menunggu bangsawan yang lengah. Penyanyi jalanan melantunkan lagu-lagu dengan merdu dari pintu ke pintu. Anak-anak yatim menangis sambil mendorong kereta jenazah ayahnya. Semua aktivitas itu mereka lakukan seharian seakan tidak peduli dengan udara dingin yang membelai wajah mereka.




Setelah lelah menyaksikan atraksi di jalanan, pengunjung dapat mampir bertamu ke rumah-rumah yang telah berubah menjadi cafe-cafe kecil. Anda dapat beristirahat sejenak, menghangatkan diri  sambil menikmati minuman dan makanan kecil khas Inggris. Alternatif lain, Anda juga dapat membeli erwtensoep, sup kacang polong khas Belanda, dengan ditemani coklat hangat. Para pramusaji café-café tersebut juga tidak ketinggalan ikut mengenakan kostum bertema Dickens. Pengunjung juga dapat membeli kue jahe dengan bungkus yang bertema Charles Dickens. Kue ini bisa dibawa pulang sebagai buah tangan untuk keluarga tercinta.


Dickens Festijn biasanya diadakan di pekan ke-3 bulan Desember sebelum perayaan natal. Waktu ini sangat sesuai dengan latar novel yang berjudul A Christmas Carol. Tapi, pada tahun 2013 ini Dickens Festijn diadakan pada tanggal 14 dan 15 Desember mengingat tanggal 21 dan 22 terlalu dekat dengan perayaan natal, sehingga kepadatan kota Deventer akan semakin bertambah.  Festival dimulai sejak pukul 11.00 pagi hingga pukul 17.00 petang. Pada tahun 2013 pengunjung Dickens Festijn relatif berkurang jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, hanya sekitar 140 ribu orang.

Setiap tahunnya kurang lebih 150 ribu orang pengunjung tumpah ruah memenuhi pusat kota Deventer untuk menyaksikan festival ini. Umumnya mereka datang dari Belanda dan Jerman. Para pengunjung rela berdingin-dingin berdiri dalam antrean selama 1,5 jam untuk menunggu giliran masuk. Jumlah pengunjung yang diperbolehkan masuk dalam waktu yang bersamaan dibatasi. Hal ini bertujuan agar area festival tidak terlalu penuh sesak, sehingga pengunjung masih bisa menikmati suasana festival dan berpetualang ke abad 19. Beberapa orang penduduk berkostum unik itu berlalu lalang di dekat jalur antrean. Mereka menjadi hiburan bagi para pengunjung yang masih menunggu giliran masuk.


Pintu masuk ke area festival terletak di Walstraat. Dua orang berkostum tentara kerajaan Inggris menjaga pintu masuk dengan tombak berada di tangan. Seluruh pengunjung mengantre dengan sabar menunggu gilirannya dipersilakan masuk oleh  sang prajurit berbaju merah tersebut. Antrean terpanjang biasanya terjadi sekitar pukul 11.00-13.00. Masuk ke area festival ini tidak dipungut biaya. Bayarannya cukuplah dengan kesabaran menunggu giliran masuk dan mengantre dengan tertib.


 Pameran dan Pasar
Pada tahun 2012 dalam rangka memperingati 200 tahun Dickens, digelar pameran “Dickens in Miniature”. Pameran ini diadakan di Bergkerk tidak jauh dari area festival. Beragam karakter dan adegan di dalam novel Dickens divisualisasikan dalam bentuk miniatur semacam rumah boneka. Pameran ini diikuti oleh peserta dari dalam maupun luar Belanda.

Selain dickens Festival, pada waktu yang bersamaan di Kota Deventer juga terdapat pasar natal. Kurang lebih 200 stan memenuhi alun-alun kota. Berbagai macam barang dijual disana. Mulai dari makanan hingga pernak-pernik lucu. Di sekitar Gereja St. Maria juga diadakan pasar barang antik dan Flea Market (pasar barang bekas). Di pasar tersebut pengunjung dapat membeli piring-piring, dan pajangan keramik antik produk Inggris, Jerman, dan Belanda dengan harga sangat miring. Selain itu juga ada yang menjual gelas-gelas kristal Bohemia dengan harga terjangkau. Jika beruntung Anda dapat membeli mainan dari berbagai dekade, pakaian, buku, dan pajangan berkualitas tinggi di flea market dengan harga sangat murah. Kadang kala ada beberapa dari barang tersebut yang masih berlabel sebagai pertanda belum pernah dipakai oleh pemilik sebelumnya.

Tips Berkunjung ke Dickens Festijn
Mendatangi Dickens Festijn berarti Anda harus siap-siap bertahan melawan dingin selama beberapa jam. Pakaian yang hangat akan membuat petualangan Anda menjadi nyaman. Topi, syal, dan sarung tangan jangan sampai ketinggalan. Tidak ada salahnya jika membawa minuman hangat dan makanan kecil untuk menemani Anda selama berada di jalur antrean. Jika tak ingin  menunggu terlalu lama, sebaiknya Anda sudah berada di lokasi sejak jam 9 pagi, 2 jam sebelum festival dimulai.


Tempat festival dapat dicapai dengan mobil melalui jalur A1 dari Amsterdam. Jika menggunakan kereta api dari bandara Schiphol, membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam. Harga tiket kereta api sekali jalan, adalah  18 euro (skitar Rp. 270 ribu). Area festival (Bergkwartier) terletak di sebelah selatan stasiun dan dapat ditempuh dengan berjalan kaki.

Tuesday, September 23, 2014

PULAU-PULAU DI LAGUNA VENEZIA

Burano
Siapa yang tak kenal Venezia, salah satu kota paling cantik dan romantis di Italia bahkan di seluruh dunia. Kota yang terkenal dengan kanal, gondola dan jembatannya ini tak pernah sepi dikunjungi oleh wisatawan dari berbagai penjuru dunia.

Jika ingin menjauh dari keramaian serta melihat sejarah dan budaya masyarakat Venezia lebih dekat, Anda bisa mengunjungi pulau-pulau kecil yang berada di laguna Venezia. Burano, Murano, dan Torcello adalah tiga pulau yang terletak di utara Venezia yang banyak menarik perhatian para wisatawan. Pulau-pulau tersebut selain menawarkan pemandangan yang indah, juga warisan budaya tradisional yang masih lestari. Ketiga pulau ini dapat dikunjungi dengan kapal ferry atau kapal wisata dengan waktu perjalanan hanya sekitar 45 menit darinVenezia.

Warna Warni Burano


Pulau ini dikenal dengan rumah-rumah nelayannya yang dipoles dengan beragam warna yang cerah. Menurut legenda, para petani mewarnai rumahnya dengan warna cerah agar mereka dapat melihat rumahnya dari kejauhan ketika sedang melaut.

Umumnya rumah-rumah di Burano berbentuk kotak, saling menyambung, dan terdiri dari dua atau tiga lantai. Lantai dasar biasanya digunakan untuk dapur, kamar mandi, dan ruang makan. Sedangkan kamar terletak di lantai atas. Rumah berwarna warni ini tampak begitu indah berjajar di sepanjang kanal yang dihiasi oleh perahu para nelayan tradisional. Bunga-bunga dan hamparan jemuran pakaian di depan rumah menambah hidup suasana.


Burano juga terkenal dengan kerajinan sulam rendanya yang cantik dan halus (marletto). Keterampilan ini telah ditekuni para wanita di Burano sejak ratusan tahun yang lalu. Setiap orang menguasai dan hanya menggunakan satu teknik renda saja. Satu produk sulam renda yang bagus bisa diselesaikan dalam waktu dua hingga tiga bulan. Tidak heran jiga harganya relatif mahal. Sebagai contoh, sebuah taplak meja makan besar, dengan sulaman sangat sederhana biasanya dijual dengan harga 60 euro (sekitar Rp. 900 ribu). Kerajinan sulam renda ini merupakan salah satu penunjang perekonomian masyarakat di pulau Burano.


Pulau Burano juga punya museum renda (Museo del Marletto). Di tempat ini diperagakan sejarah kerajinan marletto, perkembangannya, dan hasil-hasil karya terbaiknya. Pengunjung juga dapat menyaksikan para wanita asik merenda sambil bercerita dan bersenda gurau.

Pulau Burano mempunyai satu menara miring. Menara ini adalah bagian dari gereja San Martino yang terletak di Piazza Baldassare Galuppi. Menara miring ini didirikan pada abad ke-18. Di tempat ini juga disimpan lukisan-lukisan karya Gian Battista Tiepolo.

Toko Marletti dengan Latar Belakang Menara Miring


Gelas Cantik Murano


Pulau Murano terletak 1,5 km di arah utara Venezia. Pulau ini terdiri dari 7 pulau kecil yang dihubungkan oleh jembatan-jembatan. Murano terkenal dengan seni kerajinan dari kaca atau gelas. Kualitas kerajinan gelas Murano sudah diakui oleh dunia iternasional. Produknya antara lain lampu, pajangan, dan perhiasan. Karena buatan tangan dan kualitasnya yang bagus, harga gelas Murano pun sungguh mahal. Satu lampu hias saja bisa mencapai 100.000 euro.

Pada tahun 1291 seluruh seniman pembuat gelas di Venezia, diperintahkan untuk pindah ke pulau Murano, untuk menghindari resiko kebakaran. Pada saat itu kebanyakan bangunan di Venezia terbuat dari kayu. Para maestro terus mengembangkan teknik pembuatan gelas yang mereka miliki, mulai dari gelas kristal, gelas berwarna warni, hingga gelas berhias emas.

Jika Anda berkunjung ke Murano, beberapa perusahaan gelas mengadakan pertunjukan seni pembuatan gelas oleh sang maestro. Pertunjukan ini dimulai dari pemanasan bahan gelas, peniupan, memberi bentuk dan warna, hingga menghasilkan sebuah karya yang indah. Para seniman tersebut membuatnya dengan piawai dan cekatan. Sebuah bola kaca dalam waktu sekejap bisa berubah menjadi patung kuda yang indah. Sungguh menakjubkan.

Jika Anda ingin membeli produk gelas Murano ini, tempat yang terbaik adalah di galeri perusahaan gelas yang ada di Murano. Dengan begitu kita bisa yakin akan keasliannya dan juga dilengkapi dengan sertifikat. Saat ini, di Venezia banyak sekali dijual barang tiruan gelas Murano dengan harga yang jauh lebih murah.

Di Pulau Murano terdapat Museum Gelas Murano (Museo del Vetro) yang terletak di Fondamenta Marco Giustiniani.. Museum bergaya gothic ini menceritakan tentang sejarah seni pembuatan gelas dan juga menyimpan koleksi vas, cawan, patung, karya para maestro ternama seperti Lorenzo Santi dan Giovanni Fuga.

Torcello Saksi Sejarah Venezia


Torcello adalah pusat peradaban di laguna Venezia sekitar 1500 tahun yang lalu. Pada awalnya pulau ini dijadikan tempat perlindungan dari serangan Bangsa Barbar. Seiring berjalannya waktu masyarakat di pulau ini terus berkembang hingga populasinya mencapai 20.000 orang. Serangan malaria membuat warga di Pulau Torcello tidak dapat bertahan dan pindah ke Murano, Burano atau Venezia.

Saat ini Torcello menjadi pulau yang hijau, sunyi, dan penuh misteri. Hanya sekitar 20 orang warga yang masih berdomisili di sana. Pulau ini menjadi kawasan cagar alam yang hanya boleh dilintasi dengan berjalan kaki. Bangunan dan penginapan di pulau ini masih tampak seperti dulu.

Berjalan menyusuri kanal kecil yang bersih dan tenang, ditemani oleh kicauan burung, memberikan suasana yang menenangkan. Tak banyak orang yang tampak berlalu lalang. Sebuah jemmbatan putih melengkung tanpa pengaman di kedua sisinya, membentang anggun di atas kanal. Jembatan yang dibangun pada abad ke-15 ini dikenal dengan nama “Jembatan Setan”. Asal usul nama tersebut masih belum jelas hingga saat ini.


Peninggalan kejayaan Pulau Torcello yang masih dapat dilihat sampai sekarang adalah Katedral Basilica Santa Maria Assunta. Katedral ini didirikan pada tahun 639. Di dalamnya terdapat mosaik Bizantium, yang terkenal adalah Last Judgement. Di sebelah katedral berdiri gereja Santa Fosca yang dibangun pada abad ke -11. Di seberang Katedral terdapat museum kecil yang menyimpan artefak-artefak zaman medieval yang ditemukan di Pulau Torcello.









Tuesday, August 12, 2014

Festa del Majo


Pagi hari di depan Piazza San Giustino Chieti, tampak serombongan orang berpakaian tradisional Abruzzo yang dihias dengan bunga-bunga cantik. Mereka adalah peserta parade Festa del Majo yang dilaksanakan pada tanggal 1 Mei. Festival ini adalah parade terakhir di musim semi, untuk menyambut kedatangan Bulan Mei yang dianggap sebagai awal musim panas dan pertanda bahwa waktunya petani mulai bekerja.



Pada abad pertengahan, sudah menjadi tradisi masyarakat Eropa berpesta menyambut kedatangan bulan Mei. Para pemuda di pedesaan mengumpulkan bunga-bunga liar dan ranting pohon akasia. Kemudian mereka bernyanyi dan menari di depan jendela rumah wanita pujaannya, lalu menanam ranting tersebut di depan rumah sang gadis. Ada juga yang meletakkan hadiah kecil, seperti saputangan, di ranting tersebut. Para petani pun bersuka ria, karena mereka akan kembali ke kebun. Sayangnya tradisi ini terhenti pada saat perang dunia pertama.

Festa del Majo kembali dilaksanakan di Chieti Italia sejak tujuh tahun yang lalu. Chieti adalah salah satu Ibu kota Propinsi di region Abruzzo. Sebuah traktor berhias bunga-bunga berada di barisan paling depan. Kendaraan pertanian ini menggeret sebuah gerobak yang diatasnya terdapat sebuah boneka yang melambangkan “Majo” dan seorang pemuda bertopi kerucut tinggi. Dulunya topi kerucut ini dibuat dari bingkai tebu yang ditutupi dengan jerami dan bunga-bunga.
Pemuda bertopi kerucut tinggi

Arak-arakan di depan San Giustino

Traktor sebagai penghulu barisan

Festival ini dimeriahkan oleh group musik tradisional Abruzzo. Lima orang lelaki mengiringi lagu dan tarian dengan accordeon, tamborin, dan sebuah alat musik besar berbentuk tabung kayu, yang menghasilkan suara seperti terompet besar. Parade ini dimulai dari depan gereja San Giustino, melewati jalanan di pusat kota tua Chieti, dan berakhir di Villa Communale, taman kota Chieti.
Salah satu alat Musik Tradisional Abruzzo
Lagu “Nyanyian Duabelas Bulan” (Canti Dodici Messi) dinyanyikan di depan Palazzo del Mayo. Lagu ini menggambarkan karakteristik setiap bulan dalam setahun, dan kaitannya dengan aktivitas para petani di setiap bulan tersebut. Acara dilanjutkan dengan tarian “Il Ballo del Palo”. Tarian ini menggambarkan perjalanan sebatang pohon dalam setahun, bertunas, berbunga, kemudian gugur kembali daunnya. Tari ini dimainkan oleh beberapa pasang penari yang mengelilingi sebuah tiang berpita di tengah. Dengan lihainya mereka menari sambil menganyam pita yang berwarna-warni tersebut.




Video Tarian Il Ballo del Palo

Perayaan berlanjut dengan tarian Saltarelle hingga masuk waktu waktu makan siang . Pengunjung dapat mencicipi hidangan kuno " lessagne " khas dari Teramo . Upacara diakhiri dengan pembakaran patung Majo.


Alberobello

Trulli di Rione Monti
Trullo (Jamak:Trulli) adalah rumah tradisional dari Region Puglia, Italia bagian selatan. Ciri khas rumah ini adalah berbentuk persegi, beratap kerucut, yang terbuat dari susunan batu.Dindingnya yang sangat tebal membuat temperatur di dalam ruangan relatif tetap, hangat di musim dingin dan sejuk di musim panas. Trullo umumnya dapat ditemukan tersebar di kebun-kebun zaitun dan anggur yang terhampar luas di Puglia.
Trullo yang belum di pugar

Suasana di dalam Trullo yang berusia 500 tahun

Di kota Alberobello, terdapat sekitar 1.500 trulli yang letaknya terlokalisasi. kawasan ini masuk ke dalam daftar situs warisan dunia Unesco karena keunikannya.



Awalnya Alberobello adalah area hutan (Albero=pohon bello=cantik/indah). Seorang penguasa lahan memindahkan pekerjanya ke Alberobello untuk merambah hutan dan menjadikannya perkebunan.Para pekerja harus tinggal di trulli untuk menghindari pajak. Menurut peraturan saat itu, trulli tidak dianggap sebagai pemukiman permanen karena dibangun tanpa menggunakan semen. JIka sewaktu-waktu ada pemeriksaan, maka rumah-rumah ini dengan sangat mudah dihancurkan.

Saat ini trulli kebanyakan sudah dipugar dan berubah menjadi hotel, cafe, toko, atau tempat tinggal. Uniknya seluruh trulli di Alberobello dicat dengan warna putih.





Kami mengunjungi Alberobello pada tanggal 2 Agustus 2014. Dari Stasiun Bari Centrale, kami menaiki kereta FSE(FErrovie Sud-Est) dengan tujuan akhir Martina Franca, harga tiket sekitar 4 euro sekali jalan. Waktu perjalaan dari kereta sekitar 1 jam, hingga sampai di stasiun Alberobello. Hamparan kebun zaitun dan anggur di sepanjang jalan membuat waktu 1 jam terasa singkat. Dari stasiun, satu-satunya cara menuju kawasan trulli adalah dengan berjalan kaki sekitar 25 menit. Cukup jauh, namun petunjuk jalannya cukup mudah untuk diikuti.
Aia Picola

Rione Monti

Area Trulli terbagi dua yaitu Rione Monti dan Aia Picola. Rione monti adalah kawasan turistik yang ramai dikunjungi wisatawan, serta dipenuhi oleh toko-toko suvenir dan cafe. Sedangkan kawasan Aia picola, adalah kawasan perumahan yang relatif tenang dan sepi.Tidak jauh dari area Aia Picola, terdaapat view point (belvedere), untuk mengambil foto trulli dari ketinggian.

Pemandangan dari belvedere

Thursday, August 7, 2014

Matera

Matera

Kota ini terletak di region Basilicata, Italia. Matera terkenal dengan "sassi"nya, yaitu rumah-rumah gua yang dibangun di lereng bukit berbatu dan ditinggali sejak 7000 tahun yang lalu. Warga penghuni rumah gua ini hidup rukun dan tolong-menolong dengan tetangganya. Seiring berjalannya waktu teknologinya semakin maju. Mereka mempunyai satu tempat penampungan air bawah tanah (cistern) sebagai sumber air bersama, dan satu tempat penyimpanan salju bawah tanah, untuk digunakan di musim panas yang sangat terik. Selain itu mereka juga membangun satu gereja, dan aula (terbuat dari gua alami) untuk tempat bersosialisasi bagi warga.
 
Cistern

Gereja

Pada 1950-an akibat kondisi ekonomi yang buruk, warga yang tinggal di rumah-rumah gua ini adalah orang-orang miskin. mereka tinggal di dalam gua berukuran sekitar 16m persegi, dengan satu pintu dan jendela kecil untuk jalan keluar masuk udara. Di dalam gua tak bersekat itu, tinggal satu keluarga, dengan jumlah anak yang banyak dan juga binatang ternak (kuda, ayam, babi dsb.). Di dalam rumah tersebut juga tidak ada fasilitas MCK, hanya ada sebuah tong kecil di samping tempat tidur sebagai pengganti WC. Kondisi rumah yang tidak sehat menyebabkan angka kematian anak hingga 50%. Pada tahun 50-an juga terjadi wabah malaria di Matera. Akibatnya pemerintah memindahkan sekitar 50ribu penduduk ke tempat yang lebih layak, dan kawasan tersebut terlupakan hingga awal 90-an.
 
Rumah gua

Jendela

wc

Saat ini Sassi Matera dijadikan salah satu tempat yang masuk dalam daftar situs warisan dunia UNESCO. Pariwisata di kota ini mulai dikembangkan, dan misinya adalah Matera menjadi kota pusat budaya Eropa pada tahun 2019. Rumah-rumah gua tersebut sekarang sebagian besar sudah dipugar, berubah fungsi menjadi hotel, cafe dan tempat tinggal. Tapi masih ada juga sebagian rumah yang ditinggalkan kosong tak berpenghuni.

Kami berkunjung ke Matera pada tanggal 1 Agustus 2014. Kami memilih bari sebagai tempat menginap karena relatif dekat dengan Matera dan harga hotel di Bari lebih murah. Hotel-hotel di Matera memang lebih mahal, namun mereka menawarkan keunikan pengalaman bermalam di rumah-rumah gua yang sudah disulap menjadi hotel.

Kami menggunakan kereta FAL dari Bari tujuan Matera Sud. Waktu perjalanan sekitar 1,5 jam. Namun, selama perjalanan penumpang harus waspada dengan pengumuman dari crew kereta api, karena bisa saja kita harus pindah gerbong atau pindah kereta di stasiun tertentu. Bagi penumpang yang tidak biasa menempuh rute ini memang akan cukup membingungkan, apalagi pengumumannya juga dalam bahasa Italia. Tipsnya adalah sering-seringlah bertanya agar tidak terbawa ke tujuan yang salah. Jangan lupa menikmati pemandangan dari kereta, karena rute  yang dilalui membelah kebun zaitun hampir di sepanjang perjalanan.

Sesampai di Matera Centrale, kami mendatangi kantor informasi wisata yang terletak di sebelah stasiun. Di kantor ini kami mendapatkan sedikit penjelasan dan peta Matera dengan Cuma-Cuma. Namun, jika yang didatangi adalah kantor agen pemandu wisata (yang tidak jauh dari stasiun juga), maka kita akan ditawari paket wisata dengan pemandu, atau peta Matera dengan harga 2 euro. Dari stasiun kami berjalan sekitar 10 menit menuju ke komplek Sassi Maera dengan mengikuti papan petunjuk arah berwarna coklat yang bertuliskan “I sassi”

Di dalam komplek Sassi, kita dapat mengeksplorasi dengan mengikuti tiga jalur wisata yang ada di peta, jalur oranye, kuning dan merah. Kami memilih jalur oranye dan kuning karena jalur tersebut melewati hampir semua view point untuk mengambil gambar dengan landscape yang bagus. Walaupun berbekal peta, tapi kami tetap saja nyasar dan berputar-putar naik turun tangga hehe.. Selagi masih ada tenaga dan waktu, sebenarnya nyasar di komplek sassi itu menyenangkan. Karena, kita bisa “blusukan” sambil menikmati pemandangan yang unik di setiap sudutnya.

Objek yang menarik untuk dimasuki adalah Cistern dan Casa Grota. Tiket masuknya masing-masing adalah 3 dan 2 euro untuk orang dewasa. Di dalam Cistern kita bisa melihat dan mendapat penjelasan tentang teknologi penyimpanan dan penyaluran air zaman dulu yang digunakan penduduk sassi. Sedangkan di Casa Grota, sebuah rumah gua yang interiornya diisi sesuai dengan kondisi kehidupan masyarakat I sassi pada tahun 50-an. Dengan begitu kita lebih bisa membayangkan keseharian mereka hidup di rumah gua tersebut.


Bagi saya pemandangan yang paling berkesan adalah bukit-bukit berbatu, dengan lembah yang mengalir sungai kecil di dasarnya. HIngga saat meninggalkan Matera pun saya tidak bosan-bosan memandangnya. Keindahannya tidak dapat dilukikskan bahkan lewat foto. MasyaAllah…







Wednesday, February 22, 2012

Makanan Halal di Belanda



Sejujurnya ketika masih berdomisili di Indonesa, saya tidak terlalu perhatian terhadap kehalalan makanan, terutama untuk makanan non kemasan yang tentunya tidak berlabel halal. Saya hanya berpegang pada prinsip husnuzhan (berbaik sangka), bahwa emang tukang Bakso yang ini, atau Mas tukang sate yang itu insyaAllah menggunakan komposisi yang halal untuk produk dagangannya. Serta merta dengan mengucapkan bismillah makanan tersebutpun ludes disantap hanya dalam beberapa menit.

Ketika pindah ke tanah "kumpeni" ini, ternyata mencari makanan halal tidaklah mudah. Apalagi ketika baru saja datang ke sini, komunitas muslim yang ada di Belanda ini sudah membekali kami dengan sebuah lijst ingredienten yang terlalrang, atau setidaknya meragukan untuk dimakan bagi seorang muslim. Berikut ini adalah lijst ingredienten terlarang yang saya dapatkan, dan semestinya kode-kode ini dipakai seragam di negara-negara Uni Eropa.

Moskee Selwerd



Bangunan bercat putih ini sekilas tampak seperti rumah biasa, namun ini adalah masjid yang digunakan oleh sebagian ummat Islam di Groningen untuk beribadah. Selain masjid selwerd (moskee selwerd) ini masih ada 2 masjid lain di groningen, yaitu masjid Turki dan Masjid Suriname. Keunikan masjid selwerd ini adalah pengurus, dan jama'ahnya yang berasal dari berbagai suku bangsa. Bahkan di dalam websitenya dikatakan bahwa terdapat jama'ah lebih dari 30 kebangsaan yang terlibat di yayasan masjid ini (http://www.moskeegroningen.nl). Bangunan ini terdiri dari dua lantai, lantai atas adalah tempat sholat wanita, sedangkan di lantai bawah terdapat ruang sholat pria, tempat wudhu, dapur, dan ruang makan. Bangunan ini telah digunakan menjadi Masjid sejak tahun 1993.