Thursday, August 7, 2014

Matera

Matera

Kota ini terletak di region Basilicata, Italia. Matera terkenal dengan "sassi"nya, yaitu rumah-rumah gua yang dibangun di lereng bukit berbatu dan ditinggali sejak 7000 tahun yang lalu. Warga penghuni rumah gua ini hidup rukun dan tolong-menolong dengan tetangganya. Seiring berjalannya waktu teknologinya semakin maju. Mereka mempunyai satu tempat penampungan air bawah tanah (cistern) sebagai sumber air bersama, dan satu tempat penyimpanan salju bawah tanah, untuk digunakan di musim panas yang sangat terik. Selain itu mereka juga membangun satu gereja, dan aula (terbuat dari gua alami) untuk tempat bersosialisasi bagi warga.
 
Cistern

Gereja

Pada 1950-an akibat kondisi ekonomi yang buruk, warga yang tinggal di rumah-rumah gua ini adalah orang-orang miskin. mereka tinggal di dalam gua berukuran sekitar 16m persegi, dengan satu pintu dan jendela kecil untuk jalan keluar masuk udara. Di dalam gua tak bersekat itu, tinggal satu keluarga, dengan jumlah anak yang banyak dan juga binatang ternak (kuda, ayam, babi dsb.). Di dalam rumah tersebut juga tidak ada fasilitas MCK, hanya ada sebuah tong kecil di samping tempat tidur sebagai pengganti WC. Kondisi rumah yang tidak sehat menyebabkan angka kematian anak hingga 50%. Pada tahun 50-an juga terjadi wabah malaria di Matera. Akibatnya pemerintah memindahkan sekitar 50ribu penduduk ke tempat yang lebih layak, dan kawasan tersebut terlupakan hingga awal 90-an.
 
Rumah gua

Jendela

wc

Saat ini Sassi Matera dijadikan salah satu tempat yang masuk dalam daftar situs warisan dunia UNESCO. Pariwisata di kota ini mulai dikembangkan, dan misinya adalah Matera menjadi kota pusat budaya Eropa pada tahun 2019. Rumah-rumah gua tersebut sekarang sebagian besar sudah dipugar, berubah fungsi menjadi hotel, cafe dan tempat tinggal. Tapi masih ada juga sebagian rumah yang ditinggalkan kosong tak berpenghuni.

Kami berkunjung ke Matera pada tanggal 1 Agustus 2014. Kami memilih bari sebagai tempat menginap karena relatif dekat dengan Matera dan harga hotel di Bari lebih murah. Hotel-hotel di Matera memang lebih mahal, namun mereka menawarkan keunikan pengalaman bermalam di rumah-rumah gua yang sudah disulap menjadi hotel.

Kami menggunakan kereta FAL dari Bari tujuan Matera Sud. Waktu perjalanan sekitar 1,5 jam. Namun, selama perjalanan penumpang harus waspada dengan pengumuman dari crew kereta api, karena bisa saja kita harus pindah gerbong atau pindah kereta di stasiun tertentu. Bagi penumpang yang tidak biasa menempuh rute ini memang akan cukup membingungkan, apalagi pengumumannya juga dalam bahasa Italia. Tipsnya adalah sering-seringlah bertanya agar tidak terbawa ke tujuan yang salah. Jangan lupa menikmati pemandangan dari kereta, karena rute  yang dilalui membelah kebun zaitun hampir di sepanjang perjalanan.

Sesampai di Matera Centrale, kami mendatangi kantor informasi wisata yang terletak di sebelah stasiun. Di kantor ini kami mendapatkan sedikit penjelasan dan peta Matera dengan Cuma-Cuma. Namun, jika yang didatangi adalah kantor agen pemandu wisata (yang tidak jauh dari stasiun juga), maka kita akan ditawari paket wisata dengan pemandu, atau peta Matera dengan harga 2 euro. Dari stasiun kami berjalan sekitar 10 menit menuju ke komplek Sassi Maera dengan mengikuti papan petunjuk arah berwarna coklat yang bertuliskan “I sassi”

Di dalam komplek Sassi, kita dapat mengeksplorasi dengan mengikuti tiga jalur wisata yang ada di peta, jalur oranye, kuning dan merah. Kami memilih jalur oranye dan kuning karena jalur tersebut melewati hampir semua view point untuk mengambil gambar dengan landscape yang bagus. Walaupun berbekal peta, tapi kami tetap saja nyasar dan berputar-putar naik turun tangga hehe.. Selagi masih ada tenaga dan waktu, sebenarnya nyasar di komplek sassi itu menyenangkan. Karena, kita bisa “blusukan” sambil menikmati pemandangan yang unik di setiap sudutnya.

Objek yang menarik untuk dimasuki adalah Cistern dan Casa Grota. Tiket masuknya masing-masing adalah 3 dan 2 euro untuk orang dewasa. Di dalam Cistern kita bisa melihat dan mendapat penjelasan tentang teknologi penyimpanan dan penyaluran air zaman dulu yang digunakan penduduk sassi. Sedangkan di Casa Grota, sebuah rumah gua yang interiornya diisi sesuai dengan kondisi kehidupan masyarakat I sassi pada tahun 50-an. Dengan begitu kita lebih bisa membayangkan keseharian mereka hidup di rumah gua tersebut.


Bagi saya pemandangan yang paling berkesan adalah bukit-bukit berbatu, dengan lembah yang mengalir sungai kecil di dasarnya. HIngga saat meninggalkan Matera pun saya tidak bosan-bosan memandangnya. Keindahannya tidak dapat dilukikskan bahkan lewat foto. MasyaAllah…







Wednesday, February 22, 2012

Makanan Halal di Belanda



Sejujurnya ketika masih berdomisili di Indonesa, saya tidak terlalu perhatian terhadap kehalalan makanan, terutama untuk makanan non kemasan yang tentunya tidak berlabel halal. Saya hanya berpegang pada prinsip husnuzhan (berbaik sangka), bahwa emang tukang Bakso yang ini, atau Mas tukang sate yang itu insyaAllah menggunakan komposisi yang halal untuk produk dagangannya. Serta merta dengan mengucapkan bismillah makanan tersebutpun ludes disantap hanya dalam beberapa menit.

Ketika pindah ke tanah "kumpeni" ini, ternyata mencari makanan halal tidaklah mudah. Apalagi ketika baru saja datang ke sini, komunitas muslim yang ada di Belanda ini sudah membekali kami dengan sebuah lijst ingredienten yang terlalrang, atau setidaknya meragukan untuk dimakan bagi seorang muslim. Berikut ini adalah lijst ingredienten terlarang yang saya dapatkan, dan semestinya kode-kode ini dipakai seragam di negara-negara Uni Eropa.

Moskee Selwerd



Bangunan bercat putih ini sekilas tampak seperti rumah biasa, namun ini adalah masjid yang digunakan oleh sebagian ummat Islam di Groningen untuk beribadah. Selain masjid selwerd (moskee selwerd) ini masih ada 2 masjid lain di groningen, yaitu masjid Turki dan Masjid Suriname. Keunikan masjid selwerd ini adalah pengurus, dan jama'ahnya yang berasal dari berbagai suku bangsa. Bahkan di dalam websitenya dikatakan bahwa terdapat jama'ah lebih dari 30 kebangsaan yang terlibat di yayasan masjid ini (http://www.moskeegroningen.nl). Bangunan ini terdiri dari dua lantai, lantai atas adalah tempat sholat wanita, sedangkan di lantai bawah terdapat ruang sholat pria, tempat wudhu, dapur, dan ruang makan. Bangunan ini telah digunakan menjadi Masjid sejak tahun 1993.

Monday, January 11, 2010

Sepeda

Sepeda adalah alat transportasi yang sangat popular di Belanda. Negeri kincir angin ini dihuni oleh sekitar 16,7 juta jiwa dan memiliki 18 juta sepeda. Artinya jumlah sepeda melebihi jumlah penduduknya. Sekitar 27% transportasi nasional dilakukan dengan sepeda. Sedangkan penggunaan sepeda di dalam kota bisa mencapai hingga 57% seperti yang terjadi di kota Groningen. Perjalanan dengan jarak tempuh di bawah 10 km umumnya dilakukan dengan bersepeda.

Mulai dari anak kecil, remaja, hingga nenek-nenek tampak berseliweran mengayuh kendaraan roda dua tersebut. Mereka setia bersepeda di segala musim, baik musim panas yang terik atau pun musim dingin bersalju yang suhunya dapat mencapai -20 derajat celcius. Angin musim gugur yang kencang dan membawa hujan pun tidak mengurungkan niat warga Belanda untuk tetap bersepeda. Begitulah jika sepeda sudah menjadi budaya.

Banyaknya pengguna sepeda tentu saja bukan disebabkan oleh ketidakmampuan mereka untuk membeli kendaraan bermotor. Dengan modal sekitar 500 euro (7 juta rupiah) saja sudah dapat digunakan untuk membeli mobil dengan cc rendah yang sangat cocok digunakan di dalam kota. karena, laju maksimum kendaraan bermotor di dalam kota hanya sekitar 30-50 km/jam. 

Walaupun murah, membeli kendaraan bermotor bukanlah hal yang mudah. Salah satu syarat kepemilikan kendaraan bermotor adalah calon pemilik mempunyai Surat izin Mengemudi (SIM). Untuk mendapatkan SIM bukanlah perkara gampang. Biaya kursus dan ujian SIM dapat menghabiskan biaya sekitar 2000 euro (25 juta rupiah). Sayangnya, jarang pengemudi yang mendapatkan SIM pada ujian pertamanya.
Transportasi umum yang tidak memadai juga bukanlah alasan mereka untuk memilih bersepeda. Bus, tram, dan metro dapat menjangkau hingga seluruh pelosok kota.
Kendaraan yang nyaman dan jadwal di setiap halte yang relatif tepat waktu, membuat perjalanan dengan angkutan umum terasa menyenangkan. Selain itu, juga terdapat fasilitas khusus dan keistimewaan bagi penumpang disabilitas dan para lansia.

Sejarah Sepeda 

Kisah sukses membudayakan sepeda ini tentu saja mempunyai cerita yang panjang. Sejak tahun 1948-1970 pendapatan penduduk Belanda naik hingga mencapai 222%. Hal ini memacu peningkatan jumlah mobil secara pesat. Di sisi lain pengguna sepeda terus menurun sekitar 6% setiap tahunnya. Akibatnya jalanan menjadi macet, area parkir tidak mencukupi, dan angka kecelakaan lalu lintas meningkat. Banyak terjadi demonstrasi menuntut keamanan di jalan raya, terutama bagi anak-anak.

Pada tahun 1973 terjadilah krisis bahan bakar minyak yang berimbas pada krisis ekonomi nasional. Menyikapi kondisi tersebut pemerintah Belanda memutuskan untuk mengubah gaya hidup masyarakat dan kebijakan dalam bidang transportasi.

Salah satu alternatifnya adalah mengubah pandangan car-oriented menjadi bike-oriented. Pada tahun 1975 dilakukan uji coba di kota Tilburg dan Den Haag. Di kedua kota ini dibangun jalur khusus sepeda yang relatif luas dan aman. Hasilnya pengendara sepeda mengalami peningkatan 30%-60% di Den Haag dan 75% di kota Tilburg. 

Faktor Pendukung

Fasilitas yang mendukung keamanan dan kenyamanan bersepeda ternyata merupakan salah satu faktor kunci penyebab banyaknya pengguna sepeda di Belanda. Selain itu, jalanan di dalam kota yang relatif datar juga menambah kemudahan bersepeda.

Jalur khusus sepeda terletak di antara trotar dan jalan besar tempat kendaraan roda empat berlalu lalang. Jalanan yang luasnya minimal 1,25 meter ini diberi cat berwarna merah. Jalur sepeda juga dapat melintasi taman kota dan perumahan untuk mempersingkat jarak tempuh.
Untuk jalan yang kecil, jalur sepeda dan mobil menjadi satu. Jalur sepeda hanya digunakan oleh pengendara sepeda atau sepeda motor ber cc rendah yang tidak dapat melaju kencang. Di Belanda jarang sekali terlihat sepeda motor di jalanan. 

Walaupun di beberapa tempat tidak ada pembatas antara jalur sepeda dan mobil, pengendara mobil jarang sekali yang berjalan di atas jalur sepeda. Jika jalur mobil dan sepeda menjadi satu, maka pengendara sepeda mendapat prioritas untuk didahulukan dari pengendara mobil atau bus. 

Pada jalan yang sempit seluas badan bus misalnya, jika ada sepeda yang berjalan di depan bus, maka bus akan berjalan di belakang sepeda dengan kecepatan menyesuaikan dengan kecepatan sepeda. Sopir bus sama sekali tidak memberikan warning dengan klakson agar sepeda tersebut berjalan lebih cepat. Namun, jika pengendara sepeda berhadapan dengan pejalan kaki, maka pejalan kakilah yang mendapat prioritas lebih dahulu.

Tetap Punya Aturan

Di setiap perempatan jalan yang besar umumnya terdapat lampu pengatur lalu lintas. Lampu ini ditujukan untuk tiga jenis pemakai jalan, mobil, sepeda, dan pejalan kaki. Lampu menyala merah secara bergantian untuk ketiga pemakai jalan tersebut. Lampu bergambar sepeda untuk pengendara sepeda, dan lampu bergambar orang untuk pejalan kaki yang akan menyeberang jalan. Semuanya berjalan pada gilirannya masing-masing. Hal ini menyebabkan para pengendara sepeda dan pejalan kaki tetap merasa aman walaupun berada di jalan besar.
Jika matahari mulai terbenam, atau jalanan berkabut tebal, maka pengendara sepeda wajib menggunakan lampu sepeda. Lampu putih diletakkan di depan sepeda dan lampu merah diletakkan di belakang. Pengendara sepeda yang tidak menggunakan lampu dikenai denda sebesar 35 euro (sekitar 450 ribu rupiah).  

Parkir sepeda juga tidak dibenarkan di sembarang tempat. Sebab, tempar parkir sepeda sudah tersedia di berbagai tempat, mulai dari pasar, pertokoan, kantor-kantor, hingga stasiun kereta api. Sepeda yang diparkir di sembarang tempat dapat disita oleh pemerintah kota, dan harus ditebus dengan biaya yang mahal. 

Tidak Menghalangi Mobilisasi

Membawa sepeda ke luar kota dengan kereta api juga memungkinkan. Dalam satu rangkaian kereta api disediakan satu gerbong untuk meletakkan sepeda. Sepeda lipat lebih mudah untuk dibawa. Namun, sepeda biasa pun tetap dapat di bawa dengan kereta api. Pengendara sepeda harus membeli tiket sepeda terlebih dahulu seharga 6 euro (sekitar 75 ribu rupiah).
Stasiun kereta api menyediakan tempat parkir sepeda yang sangat luas. Di tempat ini para pengguna sepeda yang hendak ke luar kota dapat meninggalkan sepedanya dengan aman dan gratis. Tempat parkir ini juga dijaga oleh aparat keamanan. 

Perlengkapan Sepeda

Kelengkapan aksesoris sepeda juga dapat ditemukan dengan mudah di toko-toko speda. Mulai dari lampu portable yang dapat dipindah dengan mudah dari satu sepeda ke sepada lainnya, hingga kursi boncengan sepeda untuk anak yang dilengkapi dengan sabuk pengaman. 
Bagi pengendara seopeda yang sering membawa barang dalam jumlah banyak, juga terdapat bakfiets semacam sepeda dengan gerobak di depannya. Bakfiets ini juga dapat disewa dengan harga 10 euro untuk setengah hari. Ada juga sepeda yang dimodofikasi menyerupai mobil balap, sehingga pengendara sepeda dapat duduk bersandar dengan nyaman saat mengendarai sepeda.

Kemauan yang Kuat

Macet, kurangnya tempat parkir, angka kecelakaan yang tinggi, serta harga bahan bakar minyak yang semakin mahal adalah masalah yang juga dirasakan oleh bangsa Indonesia. Perpaduan dari kemauan yang kuat dari pemerintah dan penerimaan dari masyarakat adalah faktor kunci perbaikan dalam memecahkan masalah transportasi tersebut.
Kenaikan harga BBM sangat mempengaruhi biaya transportasi. Menggunakan sepeda sebagai alat transportasi adalah salah satu alternatif penghematan yang sekaligus ramah lingkungan. Selain itu bersepeda juga merupakan sarana olah raga yang bermanfaat bagi kesehatan masyarakat.

Bersepeda juga sudah menjadi olah raga dan hobby yang dilakukan oleh sebagian kecil masyarakat di hari libur. Hal yang perlu ditingkatkan adalah kemanan dan kenyamanan bersepeda di dalam kota. Pembangunan infrasruktur dan regulasi bersepeda adalah salah satu solusinya. Selanjutnya, sosialisasi yang persuasif juga akan membantu mengubah cara pandang car-oriented menjadi bike-oriented.




Thursday, January 7, 2010

My First Winter






Tidak terasa, dedaunan di pepohonan sudah tak tersisa lagi, akhirnya musim dingin yang kata orang membuat manusia berwajah muram itu pun telah tiba. Jadi penasaran ingin tau seperti apa winter di Belanda ini. Kata orang-orang, winter di Belanda itu tidak menyenangkan, dinginnya sangat menusuk tapi jarang sekali turun salju, kalaupun turun hanya tipis saja, sekedar memutihkan daratan. Sering kali cuaca cerah namun menipu, sepertinya hangat ternyata suhunya dibawah nol. Namun, di dalam hati aku tetap berharap agar bisa menyaksikan turunnya salju di musim dingin ini.

Tak berselang beberapa hari, ternyata harapunku pun jadi kenyataan. Salju pun turun walaupun pada awalnya hanya sedikit saja. Moment ini tentu saja tidak kusia-siakan untuk mengambil foto taman Noorderplantsoen yang terletak sekitar 100 meter dari rumahku.


Tanpa diduga, pada sore hari salju mulai turun kembali dan semakin lebat. malam itu aku sempat berkunjung ke Blue Building -salah satu student housing- dengan menggunakan sepeda. Malam itu telapak kaki kami sudah mulai terbenam jika menginjak trotoar. Kami semakin senang melihat salju yang semakin menebal. bahkan kami menyempatkan diri untuk bermain lempar-lemparan bola salju dengan kawan-kawan, walaupun saat itu sudah hampir jam 12 malam. Rasa dingin yang menusukpun tidak lagi terasa mengganggu keceriaan kami.

Ketika akan pulang, sepeda kami sudah diselimuti oleh salju yang cukup tebal, dan ternyata kunci sepedaku tidak bisa dibuka karena air yang masuk ke dalam lubang kuncinya membeku. Setelah berupaya menghangatkan anak kuncinya dengan lighter dan meniup-niup gembok dengan udara hangat dari mulut kami, akhirnya kunci itu pun bisa terbuka. Alhamdulillah..


Keesokan harinya, suamiku mengintip dari balik gordijn ke luar jendela, dan sekonyong-konyong ia berteriak "wow saljunya tebel banget". Ternyata semalaman tadi salju turun terus menerus. Kami melihat sepeda diparkiran belakang sudah ditutupi salju sekitar 20 cm, saat itu salju masih belum berhenti. lagi-lagi kami tidak menyia-nyiakan kesempatan yang langka ini. Kami keluar menuju taman dan mengambil foto di sana. Ternyata warga asli Belanda pun melakukan hal yang sama, sebab hal semacam ini tidak diduga dan jarang terjadi di Belanda.

Tebalnya salju di jalanan menyebabkan tidak ada satupun trnsportasi umum yang beroperasi hari itu di kota kami. Kereta antarkota pun banyak yang tidak beroperasi, dan jadwal penerbangan terutama penerbangan menuju wilayah eropa lainnya banyak yang dibatalkan. Sedikit demi sedikit keceriaanku melihat salju yang turun menjadi berkurang dan berubah menjadi sebuah kekhawatiran akan chaosnya transportasi. Orang-orang menjadi kesulitan untuk bepergian, bahkan menggunakan sepedapun sama lamanya dengan berjalan kaki, di samping bahaya karena jalanan yang licin. Teman-teman yang baru pulang dari luar kota terancam tidak mendapatkan kereta menuju Groningen, dan akhirnya mereka menempuh perjalanan tersebut "ngeteng" dengan waktu tempuh dua kali lipat lamanya dibandingkan dengan kondisi normal.

Kendaraan pembersih salju dan penabur garam di jalananpun dikerahkan oleh pemerintah setempat. Namun, operasi tersebut hanya dilakukan di jalan-jalan besar. Sedangkan jalankecil seperti di depan rumah kami masih tetap tertimbun salju tebal yang sudah mulai mengeras yang berakibat semakin licin. Aku membayangkan jika hal ini terjadi di Indonesia, mungkin Pak RT sudah mengetuk pintu-pintu rumah warga untuk mngajak bergotong royong membersihkan jalan di depan rumah masing-masing. Apakah di sini tidak ada budaya gotong royong, karena segala sesuatu berharap diurusi oleh pemerintah sebagai kompensasi atas pajak penghasilan yang mahal? Bukankah bangsa Belanda pernah tinggal di Indonesia selama 3,5 abad? ternyata waktu sepanjang itu masih tidak cukup untuk menularkan budaya gotong royong. hmm.. entahlah.


Wednesday, October 28, 2009

Jangan Pernah Kehabisan Bahan Makanan di Hari Minggu



Apakah Anda pernah kehabisan makanan di hari Minggu? Ya.. mungkin sebagian orang pernah mengalaminya. Namun, bukankah hal ini tidak terlalu istimewa? Toh tinggal jalan sedikit ke warung, atau ke pinggir jalan, banyak berderet para penjaja makanan yang siap santap, lezat, dan sesuai dengan kocek.

Lain halnya jika hal ini terjadi di Belanda, terutama di Groningen, kota yang terletak di wilayah utara Belanda. Pada suatu hari Minggu, aku baru menyadari bahwa persediaan beras di rumah habis total, tak bersisa sebutir pun. Aku dan suamiku mencoba berjalan dengan penuh harapan menuju warung kebab halal di daerah Padepoel. Ternyata, harapan itu pun pupus. Dari kejauhan tampak toko tersebut tertutup dengan rolling door, artinya kami tidak bisa berharap untuk mendapatkan makan malam di tempat tersebut. Untungnya di rumah masih ada dua potong roti shawarma, dan sedikit daging kalkun cincang yang sudah dibumbui. Alhamdulillah ... akhirnya perut kami terisi, makan malam tetap bisa terlaksana. 

Mungkin sebagian orang bertanya-tanya, mengapa tidak mencoba datang ke warung lainnya? Atau berjalan ke pasar maupun supermarket? Bukankah beras dan bahan makanan lainnya dapat ditemukan dengan mudah di berbagai tempat?

Inilah uniknya Belanda. Pada hari Minggu, hampir seluruh toko dan supermarket tutup, kecuali pada saat koop zondag, yaitu hari minggu pada pekan pertama di setiap bulannya. Toko-toko yang berada di pusat kota umumnya beroperasi, itu pun baru dibuka mulai jam 12.00 siang dan sudah tutup kembali pada jam 17.00. Beberapa cafe dan bar juga buka di hari Minggu, tapi tentu saja kecil kemungkinan untuk mendapatkan makanan yang kita yakini halal di tempat tersebut.

Inilah sebabnya mengapa saya memberi judul tulisan ini "Jangan Pernah Kehabisan Bahan Makanan di Hari Minggu." Uniknya lagi, pada hari Senin hampir semua toko baru mulai dibuka pukul 12.00 siang. Jika pun ada toko yang mulai dibuka pukul 9.00 atau 10.00 pagi, maka besar kemungkinan sang pemilik toko bukanlah orang Belanda, bisa jadi orang China, Turki, Maroko atau yang lainnya.

Pada hari Selasa-Sabtu, jangan pernah berharap untuk membeli apapun sebelum jam 9 pagi. Karena toko, supermarket, dan pasar, paling cepat mulai dibuka jam 9. Di Belanda tidak ada warung kopi yang sudah mulai beroperasi sejak jam 6 pagi, dengan sajian pisang goreng atau nasi kuning yang nikmat, ataupun penjaja bubur ayam keliling yang sudah mendenting-dentingkan sendoknya untuk memanggil para pelanggannya. Apalagi emang-emang tukang sayur keliling yang membawa bahan makanan lengkap, persis seperti supermarket, hanya saja tanpa lemari pendingin.

Begitu pula halnya di sore hari. terlambat sedikit, bisa-bisa anda tidak diterima untuk berbelanja di sebuah toko, karena mereka akan segera tutup. Ada toko yang tutup pukul 17.00, 18.00, dan paling malam pukul 20.00. Toko yang tutup pukul 20.00 malam biasanya adalah supermarket besar. jadi, jika Anda butuh sesuatu di atas jam 20.00 malam, maka sebaiknya anda menelpon rekan anda dan bertanya, apakah mereka punya barang yang anda butuhkan?

Satu hal lagi, pada hari Kamis malam, toko-toko di pusat kota buka hingga jam 20.00. Sedangkan pada hari Jum'at malam, toko-toko yang berada di luar pusat kota buka hingga jam 20.00, hal ini dinamakan koop avond.

Belanja di pasar, secara umum lebih murah daripada belanja di supermarket. Tapi, Anda hanya bisa belanja di pasar pada hari Selasa, Jum'at, dan Sabtu. Sisanya pasar hanyalah lahan kosong yang sangat bersih, dengan latar belakang gedung-gedung tua yang indah, yang digunakan oleh burung-burung untuk bermain. Atau bisa juga digunakan sebagai tempat mengambil gambar bagi para pelajar yang berasal dari Indonesia.

Begitulah kehidupan perbelanjaan di belanda, khusunya di groningen. Barang-barang yang dijual sangatlah lengkap, dan banyak yang siap pakai, namun tidak bisa didapatkan di setiap waktu seperti halnya di Indonesia, ada circle K yng buka 24 jam, Pasar Induk yang buka dari malam hingga pagi, pasar besar dan pasar kecil yang sudah mulai buka sejak subuh, dan juga ada warung tetangga yang bisa diketuk jika kita membutuhkan sesuatu pada saat mereka belum buka ataupun sudah tutup. Semuanya beroperasi setiap hari, tanpa mengenal hari libur. Hmm.. benar-benar bikin kangen.. [SA]

Musim Gugur




Ini adalah musim gugur pertama dalam hidupku.orang inggris menyebutnya autumn sedangkan orang Belanda menyebutnya herfst.

Maklumlah, sebagai sebagai seorang yang terlahir di negara tropis, aku hanya mengenal dua musim, yaitu musim hujan dan musim kemarau. Tapi sebenarnya masih ada musim lainnya di negara tropis, yaitu musim mangga, musim duren,dan musim rambutan. Lain halnya dengan padang kota kelahiranku, kota ini mengenal dua musim lain yang berbeda lagi, yaitu musim panas dan musim panas sekali, fyuhh..

Aku merasakan begitu banyak fenomena yg menakjubkan selama musim gugur ini. Salah satunya adalah dedaunan yang setiap hari berubah warnanya. Mulai dari hijau kemudian menguning, kemudian coklat, lalu gugur. Ada juga dedaunan yang mengalami fase perubahan warna menjadi merah. Subhanallah indahnya..

Perubahan warna dedaunan yang indah ini memberikan hiburan dan membuat para manusia terlena, sehingga dapat melupakan perubahan suhu yang semakin hari semakin dingin tentunya. Subhanallah, bersama kesulitan itu ada kemudahan. Bersama sesuatu yang tidak mengenakkan itu, ada keindahan.

Ciri khas musim gugur adalah banyak angin dan banyak hujan.Kebanyakan orang, termasuk aku, tidak terlalu suka dengan dua hal tersebut. Namun, hujan dan angin sangat bermanfaat bagi para tumbuhan yang sedang berguguran dedaunannya.

Angin yang bertiup kencang, memberikan kemudahan kepada dedaunan untuk berguguran dari tampuknya. Begitu pula halnya dengan biji-bjian, yang ingin segera bertemu dengan tanah, akan sangat mudah beterbangan kemudian mendarat di tempat-tempat yang nyaman bagi mereka untuk menempuh masa dormannya selama musim dingin, dan menanti masa persemaiannya di musim semi yang akan datang.

Ini merupakan mekanisme yang diciptakan agar tumbuhan tetap dapat menjaga kelestarain jenisnya, ketika akan memasuki musim dingin yang kurang bersahabat. Andai kata pada musim dingin sang induk tidak dapat bertahan hidup, maka ia telah sempat meninggalkan benih keturunannya yang dengan izin Allah akan tumbuh kembali pada musim semi.

Hujan membasahi tanah dan dedaunan yang berguguran. Hal ini mungkin juga dapat mempercepat proses pembusukan daun-daun yang berguguran di atas tanah. Namun, ada hal yang berbeda antara hujan di Belanda dengan di Indonesia, hujan di Belanda hanya seperti shower yang mengalir dengan lembutnya. Mungkin itulah sebabnya di Belanda tidak ada syair lagu "tik.. tik.. tik.. bunyi hujan di atas genting, airnya turun tidak terkira..."

Subhanallah.. begitulah cara Allah SWT mengatur dan memelihara alam semesta ini, dengan sangat telitinya tanpa ada yang terlewatkan. [SA]