Wednesday, February 22, 2012

Makanan Halal di Belanda



Sejujurnya ketika masih berdomisili di Indonesa, saya tidak terlalu perhatian terhadap kehalalan makanan, terutama untuk makanan non kemasan yang tentunya tidak berlabel halal. Saya hanya berpegang pada prinsip husnuzhan (berbaik sangka), bahwa emang tukang Bakso yang ini, atau Mas tukang sate yang itu insyaAllah menggunakan komposisi yang halal untuk produk dagangannya. Serta merta dengan mengucapkan bismillah makanan tersebutpun ludes disantap hanya dalam beberapa menit.

Ketika pindah ke tanah "kumpeni" ini, ternyata mencari makanan halal tidaklah mudah. Apalagi ketika baru saja datang ke sini, komunitas muslim yang ada di Belanda ini sudah membekali kami dengan sebuah lijst ingredienten yang terlalrang, atau setidaknya meragukan untuk dimakan bagi seorang muslim. Berikut ini adalah lijst ingredienten terlarang yang saya dapatkan, dan semestinya kode-kode ini dipakai seragam di negara-negara Uni Eropa.


E140, E141, E153, E161, E252, E270, E280, E325-327, E337, E422, E430-434, E470-478 (kecuali 471 yang sojalecitin), E481-483, E485, E491-495, E542, E570, E572, E631, E635, E904, E913, E920, weipoeder, varken, rum, gelatin, likeur, monoglicerida-vetzuren, lechitin. Sebagai bahan informasi, penjelasan pengkodean bahan makanan di atas adalah sebagai berikut.
E100-199 : food colors
E200-299 : preservatives
E300-399 : antioxidants, phosphates, and complexing agents
E400-499 : thickeners, gelling agents, phosphates, humectants, emulsifiers
E500-599 : salts and related compounds
E600-699 : flavor enhancers
E700-899 : not used for food additives (used for feed additives)
E900-999 : surface coating agents, gases, sweeteners
E1000-1399 : miscellaneous additive
1400-1499 starch derivatives

http://special.worldofislam.info/Food/numbers.html

Ternyata daftar bahan makanan terlarang dan meragukan itu cukup panjang juga. Untuk menyisatinya saya menyimpan list tersebut di dalam HP yang akan selalu dibawa kemanapun. Pada masa-masa awal memang agak ribet menggunakan daftar ini, apalagi kalau belanja di supermarket, bisa dikatakan lebih banyak makanan yang tidak bisa dimakan ketimbang yang bisa dimakan, jika diseleksi menggunakan list ini. Namun, lama kelamaan karena saya sudah hafal merk produk yang bisa dimakan dan tidak bisa dimakan, maka berbelanja sudah tidak lagi memerlukan waktu yang lama untuk mengecek komposisinya. JIka ada sedikit waktu luang, saya memilih agak sedikit berlama-lama di supermarket untuk survey makanan-makanan kemasan yang kira-kira bisa dimakan. Tidak jarang untuk sekali berbelanja, saya terpaksa mendatangi lebih dari satu supermarket, karena roti yang halal dan enak hanya di jual di supermarket A, bumbu-bumbu khas Indonesia di jual di supermarket B, dan daging halal di jual di toko C.

salah satu upaya yang sering dilakukan oleh ibu-ibu muslimah yang tinggal menetap di sini adalah menanyakan langsung melalui e-mail ke pada customer service apakah produk tertentu yang mereka jual menggunakan emulgator atau bahan tambahan yang berasal dari hewan atau tumbuhan. Berdasarkan hasil pengalaman cara ini cukup sukses dan menguntungkan. Beberapa produsen hanya mencantumkan kode-kode di atas tanpa menjelaskan apakah sumber bahan tersebut dari hewan atau tumbuhan. Sehingga, ternyata ada produk-produk seperti roti merk Blue Band atau mentega merk Bona yang berwarna hijau tua, yang selama ini disangka tidak bisa dimakan, ternyata halal karena produk tersebut ternyata dibuat dari tumbuhan. Satu hal lagi yang patut disyukuri adalah pihak customer service bersedia menjelaskan dengan transparan komposisi apa saja yang mereka gunakan, bahkan terkadang hingga proses pembuatannya pun dijelaskan.

Beberpa macam makanan yang selama ini kita anggap aman-aman saja di Indonesia, ternyata tidak berlaku sama dengan di Belanda. Mulai dari produk roti, biasanya bermasalah pada emulgator yang digunakan, snack-snack asin bermasalah pada penyedapnya, minuman bermasalah pada pewarna yang digunakan, kaldu yang tidak dibuat dari hewan yang disembelih dengan cara Islam, bahkan kerupuk pun ada yang tidak bisa dimakan. Untuk roti, sebgaian besar roti yang enak, lembut, bertabur kismis atau coklat, hampir pasti tidak bisa dimakan. kalaupun ada roti yang bisa dimakan, biasanya roti tawar, roti perancis, atau roti pita yang biasa digunakan untuk makan shoarma dan itupun masih harus dioven sendiri (NB:kadang-kadang sukses mengembang, kadang-kadang bisa jadi sekeras pentungan). Ini kabar tidak menggembirakan memang. Namun, baru-baru ini saya mendapatkan kabar bahwa roti produk C1000, menggunakan emulgator yang berasal dari tumbuhan. Walaupun saya sendiri belum bertanya langsung kepada customer servicenya namun ini merupakan sebuah harapan baru bagi saya untuk dapat mencicipi roti yang bertabur kismis dan coklat.

Untuk produk-produk snack asin, biasanya pilihan rasa yang natural relatif aman, karena hanya menggunakan garam sebagai perasanya. Namun, terkadang snack rasa paprika, dan bawang pun masih bisa dimakan. Yang perlu diwaspadai adalah makanan dengan pilihan rasa ayam (kip), bolognese, daging sapi (vlees), varken (babi), apalagi kalo jelas-jelas ada tulisan " met babi panggang". Menu-menu vegetaris, seperti pizza vegetaris dan loempia vegetaris, biasanya relatif aman, selama tidak mengandung kode-kode terlarang di atas.

Trend makanan halal yang ada di Belanda, biasanya ada dua kemungkinan. yang pertama adalah harganya sangat murah, mungkin karena tidak menggunakan emulgator macam-macam, dan rasanya pun tidak terlalu enak, atau yang ke dua, sangat mahal, karena menggunakan bahan-bahan yang berasal dari tumbuhan. Contohnya adalah ice cream, yang bisa dimakan adalah produk bilogisch rasa vanila, yang tentu saja harganya relatif lebih mahal dari merk lainnya. Contoh lainnya ice cream yang bisa dimakan adalah merk Haagen Dazs yang terkenal enak dan mahal (di Indonesia Rp.70.000 /cup).

Jika ingin membeli daging, alhamdulillah saudara-saudara kita muslim dari Turki, Iran, dan negara timur tengah lainnya banyak yang membuka toko daging halal yang disebut dengan Halal Slagerij. Di toko semacam ini kita dapat membeli daging sapi, kambing, dan ayam. Kadang-kadang mereka juga menjual daging ayam atau kalkun yang sudah dibumbui, tentu saja dengan citarasa khas timur tengah. Di toko ini juga menjual sosis, salami, nugget, dan kaldu halal. namun, satu hal yang perlu dicatat adalah, tidak semua barang yang dijual di Halal Salgerij ini terbebas dari komposisi dengan kode terlarang di atas. Kesimpulannya, dimanapun anda berbelanja jangan lupa untuk mengecek komposisi makanan yang akan dibeli.

Hal lain yang cukup membingungkan adalah jika kita ingin membeli makanan di restaurant, atau warung pinggir jalan, yang sama sekali tidak mencantumkan komposisinya. Persis seperti ketika kita jajan batagor di depan kampus misalanya. Untuk makanan semacam ini memang sangat sulit untuk diketahui kehalalannya. Pilihan pertama tentu saja dengan cara memilih toko yang jelas-jelas mencantumkan label halal. Biasanya warung-warung kebab ada yang mencantumkan label halal. Jika tidak menemukannya, alternatif kedua adalah mencari restaurant atau penjual makanan yang khusus menjual sea food. Ini pun kita masih harus berhati-hati, karena tidak jarang mereka menggunakan wiite wijn (anggur putih) sebagai bahan untuk menghilangkan rasa amis dan membuat aroma makanan menjadi lebih enak. Nah disinilah diperlukan ketajaman indra penciuman kita untuk mendeteksi keberadaan alkohol di dalam makanan. Kalo saya pribadi merekomendasikan untuk tidak jajan di luar jika tidak terpaksa, selain mahal kita juga tidak yakin akan kehalalannya.

Memang hingga saat ini saya masih belum memeriksa secara mendalam isi dari kode-kode di atas dan hal apakah yang menyebabkan komposisi tersebut disebut meragukan atau tidak halal. Di sisi lain saya berpikir, jika pun saya mengetahui seluruh proses pembuatannya, namun tetap saja saya bukanlah seorang ahli fiqh yang mengerti dan dapat memutuskan apakah proses tersebut dapat dikatakan halal atau tidak. Sejauh ini saya dan suami lebih memilih untuk berhati-hati dan menghindari memakan makanan yang mengandung komposisi dengan kode-kode di atas, karena tanpa mengonsumsinya pun ternyata kami masih bisa makan dengan nikmat karena masih banyak bahan-bahan segar lainnya yang dijual di Supermarket ataupun di pasar.

Satu hal, hikmah yang bisa diambil dengan kondisi semacam ini, kami para ibu-ibu yang berdomisili di Belanda ini lama kelamaan jadi semakin bertambah skill masaknya. Karena jika ingin makan sesuatu, maka kami harus membuatnya sendiri. Karena , tidak akan ada emang-emang tukang mie ayam yang akan lewat di depan rumah ataupun jika kita pergi mengunjungi restaurant, sulit mencari makanan yang halal. Selain itu, kondisi semacam ini bisa jadi menjadi ujian bagi keimanan kami, betapa tidak, seringkali kami harus melewati para penjual makanan dan tercium aroma yang sangat menggiurkah, terkadang juga menawarkan harga yang murah, namun saya harus tetap bersikukuh untuk terus berjalan dan tidak tergoda oleh tawaran yang menggiurkan tersebut. Apalagi kalau makanannya adalah makanan khas negara tersebut, seperti wafel Belgia yang terkenal enak, walaupun sudah jauh-jauh datang ke Belgia, namun tetap belum bisa menyicipi wafelnya. Wallahu a'lam... [sa]

3 comments:

  1. salam kenal Mbak, kebetulan saya akan ke Belanda. browsing makanan halal, dan berakhir di Blog-nya Mbak Sri. walau hanya 3 minggu tapi kan tetap harus dipersiapkan. apalagi ini pertamakali saya ke luar negeri/ hehehe...

    ReplyDelete
  2. salam kenal juga mbaak... info mbak sangat bermanfaat. kalo gtu memang hrs bisa masak sndiri aja ya buat amannya. saya brgkt januarI insya allah rencana 3 bln d groningen. lmyn bs merasakan susahnya cari makanan halal

    ReplyDelete
  3. Mba jd es cream.hageen daz.halal?

    ReplyDelete